Sunday, 23 December 2018

Note to 2018


This year has been challenging yet rewarding. I got many lessons to learn. I got dreams shattered. And it hurts the most when I got my heart broken into pieces.

And for the very first time, I learn how to swim professionally. I couldn't even imagine before that swimming has now become a defining factor in my life. Swimming spares me a time to contemplate, to relax, and it truly makes me happy.

Through my academic life, I learn how to enjoy the process. Slowing down myself while also taking chances. At many times I found myself standing in doubt. Yet, I am happy that the old self of mine chose to take those chances rather than to avoid it.

Failures have also shaped me in each parts I am now. I find myself more open to acceptance these days. Trial and error. I can even tell stories about those days as in a third person without any inhibitions.

I am thankful that I am not alone going through those phases. And for family and friends, I have never been more grateful.

Then, to be honest, I am not sure about what I'll be doing next and where I'll be going. However, I am sure that God is always good. Let's face it. Take chances.

Thursday, 18 October 2018

That's Why I Swim


I still remembered that morning when I got the news about that particular person.
My best friend sent me a WhatsApp message.
That was when I was told about him.
A morning before the Eid Day.

I still remembered that
about how my mind went black or blank in a sudden when I heard that.
I couldn't even think of anything
I couldn't even cry
because my own mind couldn't even comprehend what I did read on that chat.
One second,
two second,
I didn't remember how many seconds had passed until I finally realized that the only dream I could ever think of was completely gone...

It was on my grandmother's house
Each of my family members were gathering there
Thus it was impossible for me to cry in that situation
But I couldn't help
I couldn't help but crying, silently, in a room when I was asked to bring some stuffs

I couldn't help but helplessly cried
Until the next day, after the next day, and days after the next day
I couldn't even find a strength to do silaturahim or visiting other family member's houses
What I could do was only laying on the bed
Letting my mind going anywhere

Then, when I thought I already had a strength to do other activities
I chose to do writing and reading in my academic activities
Yet, those kinds of activities made me depressed even more
I couldn't read
even only one sentence
I lost the only ability that kept me going through life; reading.
I tried more and more
Yet I couldn't even let my mind focus to finish one sentence
I couldn't imagine that I could become such crazy

...and that was when I chose to travel, to somewhere peaceful and quiet
so that maybe
maybe I could find the happiness back
That was when I went to an island, to Lombok and Gili T.

Hearing the sound of waves
Letting my feet touched the softness of the white sand
Or walking along the shore and letting the wave swept off my feet

It was... liberating

That was when I thought that water could set myself free
And that was when I found that I could fall in love with swimming
Because when you were in water,
you couldn't hear anything from outside
even your mind got silent
All you could know was how your body was gliding, moving, along with the pace of water
Even your breathing would get steady
And that would help you a lot to stay calm
...And that was why I could swim almost every day
To set myself free


Saturday, 22 September 2018

The Night Ride


It is odd to understand that coming home by riding Gojek at night is strangely exhilarating for me;
the gentle touch of night wind which stroked my face,
the dazzling street lamps which acted like they were pointing a direction to me,
and the contrary of a more relaxed pace of the other rides compared to the morning rush.
Sitting and enjoying all those sensations give me time to immerse deeply in thoughts.
It somehow reminds me of life.
It somehow becomes a reflective ride.

Sometimes I wish I could take a longer route.
So that I have more time to reflect, to picture, to feel, the presence of solitary happiness.
As the street lamp reflects its sparks on street, my mind dwells in those passing times.
Prompting me to think how acceptance and forgiveness have become the most defining factors in my life now,
as I grow older.
Not always in the sense of others, but of ourselves. Of myself.
To accept and to forgive myself.

It amazes me that as life becomes simpler, happiness comes along on their own.
And I forget to remember,
it has been so many years since then when I no longer live a life with expectancy.
Instead, I embrace the present where I can find a peculiar sense of consolation.
Finding the reminiscences in between insecurity and certainty.
Letting me being washed away by the thoughts,
that maybe it was not that hard to let go.

**
Then, to the light of street lamps which imitates contemporary blinding things in life,
You can laugh and love without inhibitions.
You can feel... that life has never felt this gentle.

(Bogor, 2018)


Tuesday, 19 June 2018

Ia dan Pelanginya





A
ku selalu mengagumi pagi. Sejuknya, wanginya, embunnya. Pagi selalu memberikan harapan...

Dia adalah pagi itu.

Namun kini pagi itu hilang... Dan mungkin malam-malamku akan semakin panjang... 

Pagi itu hilang. Ia memilih hadir bersama pelangi dan warna-warnanya yang tidak pernah dapat ku pahami maknanya...

-

Pernah dengar cerita tentang pelangi dan warna-warnanya yang belakangan ini hadir menjadi simbol suatu pergerakan sosial? Ia kini pergi bersama pelangi itu, menjadi bagian dari pelangi itu sendiri.

-

Ia mungkin tidak pernah tahu bagaimana aku memulainya. Aku pun tidak tahu. Yang aku tahu, empat setengah tahun yang lalu, ia muncul dengan suatu kalimatnya yang membuatku terseret dalam frekuensinya. Frekuensi itu mendorongku untuk memahaminya lebih jauh, aku kira aku hampir saja menyentuhnya, tapi ternyata tidak. Tidak akan pernah. Ia malah berpindah lebih jauh. I thought I might never get wrong of valuing someone.

-

Aku bertanya-tanya, kenapa ia menjadi berbeda? Kenapa ia memilih menjadi berbeda? Apa saja yang telah menempanya selama empat setengah tahun ini... Aku merasa seakan tidak pernah melihatnya lagi; laki-laki yang tampil apa adanya, dengan rambutnya yang selalu berantakan, dengan pakaian yang itu-itu saja, namun menjadi sangat ada apanya dengan idealismenya, empatinya, kesungguhannya, nilainya, kejujurannya... Aku merasa menjadi bodoh sendiri, apakah aku harus mendegradasinya hanya karena pilihannya... Tetapi rasanya ia memang sungguh telah menjadi orang yang berbeda... Huffttt... Di manakah dia, dear diary?😭😭

With only a little hope, I wish he is just getting lost. Or is wondering. Or is trying another chance since he has always been a wanderer. Semoga itu hanya pilihannya yang sedang ia coba-coba...

Since he has always been a wanderer...

Since he has been living with questioning everything 

For life has hit him hard yet he tries to stand still and that is just his time to hit back the life...

Aku berharap atas alasan-alasan lainnya yang semoga hanya sementara...

I wish him to be stronger than he ever was... He is a good man... He is...

-

Tentang pelangi, saya tidak pernah peduli meskipun saya bukan pendukungnya sama sekali. Yang saya tahu kemanusiaan dan hak-haknya adalah hal yang harus saya junjung tinggi. Yang saya tahu semua orang bebas dengan pilihannya masing-masing. Memperundung seseorang hanya karena ia memilih pilihan yang berbeda dari kebanyakan adalah hal yang sangat salah. 

Bagaimanapun, sejak saya tahu ia yang saya kagumi menjadi bagian dari pelangi itu... semenjak saya semakin membaca dan berdiskusi, semakin banyak pula pertanyaan saya tentang banyak hal, termasuk tentang pelangi tersebut yang menjadi bagian dari dirinya sekarang.

Untuk memulainya, menurut saya, kesamaan (equity) itu berbeda dengan persamaan (equality). Eksistensialisme pada peran gender dalam konstruksi sosial yang relasinya horizontal, "menurut saya" tidak bisa disamakan dengan peran gender dalam suatu agama yang relasinya vertikal. Relasi horizontal tersebut merujuk pada sesama manusia, masyarakat, perannya, konstruksinya, dan sebagainya. Sementara itu, relasi vertikal merujuk pada Yang di Atas. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan logis karena menurut yang saya yakini, tidak semua hal di dunia ini dengan segala aturan dan skemanya dapat ditelaah dengan logika. Walau memang, semakin pengetahuan berkembang, semakin semuanya tampak dapat dinalar dengan logika. 

Sebelumnya, perlu diingat bahwa relasi vertikal tersebut tidak melulu mengenai agama. Beberapa masyarakat, seperti masyarakat Piraha, di Amerika Selatan, masyarakat Kannada di India, mengetahui bahwa ada dewi-dewi yang sifatnya "tak kasat mata" tapi diyakini oleh masyarakatnya dapat mengatur hasil panennya, hasil lautnya, hujan, badai, dan sebagainya. Hal tersebut juga termasuk ke dalam relasi vertikal.

Bagaimanapun, saya tidak berani berbicara dengan membawa agama dalam tulisan ini. Selain saya memang bukan ahlinya, saya menghargai kalau pemahaman agama pada tiap orang akan berbeda-beda. Saya cuma meyakini kalau dunia ini memang perlu suatu "order" atau batasan-batasan yang dapat menjaga keseimbangannya. "Order" tersebut dapat dimaknai secara berbeda-beda sesuai dengan apa yang masing-masing yakini. Kebebasan itu perlu, tentu saja. Tapi bebas, bukan berarti bablas. Untuk mengambil suatu contoh, saya akan memaparkannya dari hal-hal alamiah yang memang "dari sononya". Ekosistem hutan misalnya. Kelapa sawit memang dapat menguntungkan dengan produksi minyak masak, minyak industri, ataupun bahan bakar. Tetapi ada "aturannya" yang diperlukan untuk menjaga keseimbangannya. Saya tidak tahu mengenai Undang-Undang yang dibuat oleh pemerintah, tapi jauuuuuh sebelum itu, manusia "uncivilized" yang belum mengenal pengetahuan sudah mengetahui tata cara penanaman, budidaya, dan sebagainya. Sama halnya dengan pelaut (nelayan) yang handal dan telah mengenal laut meskipun tidak membaca tata cara yang dibuat secara formal melalui pengetahuan. Kebudayaan yang "mengatur" itu telah ada sejak dahulu. Dan saya tidak tahu apakah pelangi tersebut melanggar relasi dengan yang di Atas. Namun, jika dilihat secara visibilitasnya, pelangi tersebut mengubah.

Kemudian, muncul keinginan masyarakat (saya lupa sejak kapan, mungkin bisa dilihat di bukunya Danesi & Perron tahun 1999) untuk mengubah relasi yang di Atas tersebut karena masyarakat tidak hanya hidup dengan alam dan kealamiahan, melainkan juga dengan manusia-manusia lainnya. Dari situ, muncul relasi horizontal yang mengatur hubungan antar manusia. Begitu pun dengan konstruksi sosial. Sejak itu pun, muncul keinginan-keinginan untuk mengkonstruksi tatanan sosial, termasuk memunculkan pelangi tersebut. Dan perdebatan pun dimulai. Dalam relasi horizontal, apakah pelangi tersebut merugikan? Banyak berbagai pendapat, dari segi pro dan kontra yang memperdebatkannya. Perdebatan dari sisi kesehatan, politik, sosial... Permasalahan pelangi pun kini mewarnai perdebatan di antara para akademisi. Tetapi ya jangan terlalu dijunjung juga semua omongan akademisi ya hehe... Data bisa dimanipulasi dengan menambahkan variabel, klasifikasi data mana saja yang akan disertakan, dan sebagainya... Beberapa akademisi juga pragmatis, punya kepentingannya masing-masing hehe... 

Intinya.... duh dari curhat jadi ngomongin hal-hal berbau akademis gini! 

Intinya...

You were a good man, I mean, you are. Always. 

Although my heart was completely broken because you surely might never get the idea of wishing for a particular someone to be a part of your life forever... Having a story together, growing old, and sharing laughs and bad things as well, together... You might never have... But I have... 

And you were gone catching a rainbow, to be a part of it, which I never completely understand the meaning of its colors...

Semoga yang terbaik untukmu, pagiku... (though I still wish for us to experience autumn together!)

Sunday, 18 March 2018

Dan Kelas Sosial Tersebut

[OPINI]

Pertama, saya harus mengungkapkan bahwa saya bersyukur sekali sudah banyak gerakan-gerakan perempuan di Indonesia. Banyak tuntutan perempuan mulai didengar. Perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan, pelecehan seksual, ketidakadilan, juga mulai bersuara dan didengar juga. Gerakan perempuan yang pada awalnya bersifat tertutup, seperti Kartini yang menulis surat atau Kongres Perempuan yang kooperatif terhadap pemerintahan kolonial, mulai berubah menjadi gerakan yang terbuka, masif, dan stabil. Terlebih dengan datangnya tagar metoo dari Barat. Saya bersyukur bahwa mulai ada harapan untuk hidup dengan lebih adil bagi perempuan-perempuan di Indonesia.

Saya yang dalam studi pasca ini pun mengambil topik yang berhubungan dengan isu-isu perempuan tersebut (tentu yang masih bersinggungan dengan linguistik). Kekerasan dalam hubungan pacaran, rumah tangga, kejahatan seksual terhadap anak, UU yang mendiskriminasi, sampai isu perempuan dan politik. Saya sadar banyak sekali tangga yang harus dicapai oleh perempuan untuk hidup dengan adil. Namun... semakin saya mengambil data, kok rasanya ada yang kurang tepat dengan gerakan perempuan ini?

Rasanya... tujuan, suara, hak, persamaan, pemberdayaan itu... kok hanya sampai pada kelas sosial menengah ke atas? Kok lagi-lagi data yang saya temukan masih terus berlaku tidak adil pada kelas sosial menengah ke bawah? Eh, kenapa ini...

Kemudian, saya mencoba untuk mengikuti barisan perempuan hari Sabtu kemarin di taman aspirasi. Luar biasa. Massanya banyak, bahkan ada juga public figure yang mengikuti barisan tersebut. Waah.. Suara yang disampaikan pun sangat inspiratif, berani, dan meyakinkan,

tetapi... apakah cukup mewakili dan menyadarkan?

Apakah cukup mewakili untuk menyuarakan anak-anak perempuan jalanan yang diperkosa sehabis mereka mengamen? Apakah cukup mewakili suara ibu-ibu dan anak-anaknya yang tinggal di lingkungan tidak layak dan tidak sehat dengan anak yang terus lahir? Apakah cukup untuk didengar abang gojek yang pernah melecehkan penumpangnya? Apakah cukup untuk didengar seorang suami yang sehabis pulang bekerja menjadi buruh bangunan berlaku kasar terhadap istrinya karena tidak merasa dilayani karena istrinya sibuk mengasuh anak-anaknya?

Kembali lagi ke kelas sosial tersebut, saya jadi ingat salah satu profesor perempuan di institusi tempat saya menempuh program magister, profesor tersebut mengatakan, feminisme itu sangat barat, tidak cocok di Indonesia. Saya kaget sih tetapi saya sadar kalau saya sedang berkecimpung di dunia akademik. Semua orang boleh berargumen dengan alasannya masing-masing.

Profesor tersebut memulainya dengan contoh padananan kata 'brother' dan 'sister' yang dalam bahasa Indonesia adalah 'kakak' dan 'adik'. Oleh karena bahasa sangat berkaitan dengan kognisi dan budaya, maka padanan kata tersebut dapat memperlihatkan bahwa dalam Barat, konsep gender sangat penting alias harus kelihatan bedanya. Berbeda dengan Indonesia yang konsepnya lebih mementingkan 'strata' atau siapa yang di atasnya siapa.

Argumen profesor saya tersebut dilanjutkan dengan konsep nama. Di Barat, nama perempuan tidak terdengar. Ketika perempuan belum menikah, ia dipanggil dengan menggunakan nama belakang ayahnya. Ketika sudah menikah, panggilan namanya berganti menjadi nama belakang suaminya. Begitu pun dengan anak yang lahir darinya, akan mewarisi nama suaminya. Beliau juga menjelaskan bahwa kesadaran gender di Indonesia sudah ada jauh sebelum Kartini. Pahlawan perempuan dari zaman sebelum Kartini telah berjuang tanpa memedulikan 'saya perempuan'. Di Papua, atau daerah timur sana (karena profesor saya orang lapangan jadi beliau sering ke daerah-daerah), ibu-ibu juga bekerja di ladang, sama seperti bapak-bapaknya secara turun temurun. Baik ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut memiliki tugasnya masing-masing. Dan di sana tidak ada yang koar-koar tentang ketimpangan gender. Cuma di kota aja. Gitu katanya... Hingga akhirnya profesor saya menyimpulkan dengan pernyataan bahwa, yang ada di Indonesia ini adalah pembagian peran, bukan ketimpangan gender.

Tentu saya tidak sepenuhnya setuju karena saya tahu sekali, pun mengalami, bahwa masih ada ketimpangan gender yang tampak subtil. Oleh karena itu saya sangat setuju terhadap pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Tetapi... seperti yang saya bilang sebelumnya, semakin ke sini kok semakin kabur tujuannya... Yang sadar akan ketimpangan tersebut ya kok cuma masyarakat middle class atau masyarakat yang punya sosmed...

Saya sempat merenung, apakah mungkin memang benar, sebenarnya akar masalah gender di Indonesia ini adalah masalah strata. Dalam kelas sosial-ekonomi yang rendah, tentu anak perempuan lebih rentan untuk dinikahkan dalam umur yang sangat muda daripada anak laki-laki yang mungkin memiliki pilihan untuk bersekolah lebih lanjut. Tapi... (tapi lagi), banyak juga anak laki-laki yang tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah walau ingin karena masalah ekonomi tersebut.

Tapi entahlah. Mungkin saya yang tidak tahu kalau ternyata di antara barisan tersebut ternyata ada yang peduli dan memiliki program yang membangun untuk kelas sosial menengah ke bawah juga. Mungkin saya yang tidak tahu kalau ternyata di antara feminis-feminis social media ternyata ada yang turut menyuarakan apa yang dirasakan oleh perempuan kelas sosial tersebut. Semoga saja saya doang yang tidak tahu... Saya masih selalu berharap bahwa suara-suara tersebut pada akhirnya juga akan sampai kepada mereka...
.
.
Btw ini opini saja ya... Hehe. Maafin kalau saya ternyata sotoy hehehe