Tuesday, 19 June 2018

Ia dan Pelanginya





A
ku selalu mengagumi pagi. Sejuknya, wanginya, embunnya. Pagi selalu memberikan harapan...

Dia adalah pagi itu.

Namun kini pagi itu hilang... Dan mungkin malam-malamku akan semakin panjang... 

Pagi itu hilang. Ia memilih hadir bersama pelangi dan warna-warnanya yang tidak pernah dapat ku pahami maknanya...

-

Pernah dengar cerita tentang pelangi dan warna-warnanya yang belakangan ini hadir menjadi simbol suatu pergerakan sosial? Ia kini pergi bersama pelangi itu, menjadi bagian dari pelangi itu sendiri.

-

Ia mungkin tidak pernah tahu bagaimana aku memulainya. Aku pun tidak tahu. Yang aku tahu, empat setengah tahun yang lalu, ia muncul dengan suatu kalimatnya yang membuatku terseret dalam frekuensinya. Frekuensi itu mendorongku untuk memahaminya lebih jauh, aku kira aku hampir saja menyentuhnya, tapi ternyata tidak. Tidak akan pernah. Ia malah berpindah lebih jauh. I thought I might never get wrong of valuing someone.

-

Aku bertanya-tanya, kenapa ia menjadi berbeda? Kenapa ia memilih menjadi berbeda? Apa saja yang telah menempanya selama empat setengah tahun ini... Aku merasa seakan tidak pernah melihatnya lagi; laki-laki yang tampil apa adanya, dengan rambutnya yang selalu berantakan, dengan pakaian yang itu-itu saja, namun menjadi sangat ada apanya dengan idealismenya, empatinya, kesungguhannya, nilainya, kejujurannya... Aku merasa menjadi bodoh sendiri, apakah aku harus mendegradasinya hanya karena pilihannya... Tetapi rasanya ia memang sungguh telah menjadi orang yang berbeda... Huffttt... Di manakah dia, dear diary?😭😭

With only a little hope, I wish he is just getting lost. Or is wondering. Or is trying another chance since he has always been a wanderer. Semoga itu hanya pilihannya yang sedang ia coba-coba...

Since he has always been a wanderer...

Since he has been living with questioning everything 

For life has hit him hard yet he tries to stand still and that is just his time to hit back the life...

Aku berharap atas alasan-alasan lainnya yang semoga hanya sementara...

I wish him to be stronger than he ever was... He is a good man... He is...

-

Tentang pelangi, saya tidak pernah peduli meskipun saya bukan pendukungnya sama sekali. Yang saya tahu kemanusiaan dan hak-haknya adalah hal yang harus saya junjung tinggi. Yang saya tahu semua orang bebas dengan pilihannya masing-masing. Memperundung seseorang hanya karena ia memilih pilihan yang berbeda dari kebanyakan adalah hal yang sangat salah. 

Bagaimanapun, sejak saya tahu ia yang saya kagumi menjadi bagian dari pelangi itu... semenjak saya semakin membaca dan berdiskusi, semakin banyak pula pertanyaan saya tentang banyak hal, termasuk tentang pelangi tersebut yang menjadi bagian dari dirinya sekarang.

Untuk memulainya, menurut saya, kesamaan (equity) itu berbeda dengan persamaan (equality). Eksistensialisme pada peran gender dalam konstruksi sosial yang relasinya horizontal, "menurut saya" tidak bisa disamakan dengan peran gender dalam suatu agama yang relasinya vertikal. Relasi horizontal tersebut merujuk pada sesama manusia, masyarakat, perannya, konstruksinya, dan sebagainya. Sementara itu, relasi vertikal merujuk pada Yang di Atas. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan logis karena menurut yang saya yakini, tidak semua hal di dunia ini dengan segala aturan dan skemanya dapat ditelaah dengan logika. Walau memang, semakin pengetahuan berkembang, semakin semuanya tampak dapat dinalar dengan logika. 

Sebelumnya, perlu diingat bahwa relasi vertikal tersebut tidak melulu mengenai agama. Beberapa masyarakat, seperti masyarakat Piraha, di Amerika Selatan, masyarakat Kannada di India, mengetahui bahwa ada dewi-dewi yang sifatnya "tak kasat mata" tapi diyakini oleh masyarakatnya dapat mengatur hasil panennya, hasil lautnya, hujan, badai, dan sebagainya. Hal tersebut juga termasuk ke dalam relasi vertikal.

Bagaimanapun, saya tidak berani berbicara dengan membawa agama dalam tulisan ini. Selain saya memang bukan ahlinya, saya menghargai kalau pemahaman agama pada tiap orang akan berbeda-beda. Saya cuma meyakini kalau dunia ini memang perlu suatu "order" atau batasan-batasan yang dapat menjaga keseimbangannya. "Order" tersebut dapat dimaknai secara berbeda-beda sesuai dengan apa yang masing-masing yakini. Kebebasan itu perlu, tentu saja. Tapi bebas, bukan berarti bablas. Untuk mengambil suatu contoh, saya akan memaparkannya dari hal-hal alamiah yang memang "dari sononya". Ekosistem hutan misalnya. Kelapa sawit memang dapat menguntungkan dengan produksi minyak masak, minyak industri, ataupun bahan bakar. Tetapi ada "aturannya" yang diperlukan untuk menjaga keseimbangannya. Saya tidak tahu mengenai Undang-Undang yang dibuat oleh pemerintah, tapi jauuuuuh sebelum itu, manusia "uncivilized" yang belum mengenal pengetahuan sudah mengetahui tata cara penanaman, budidaya, dan sebagainya. Sama halnya dengan pelaut (nelayan) yang handal dan telah mengenal laut meskipun tidak membaca tata cara yang dibuat secara formal melalui pengetahuan. Kebudayaan yang "mengatur" itu telah ada sejak dahulu. Dan saya tidak tahu apakah pelangi tersebut melanggar relasi dengan yang di Atas. Namun, jika dilihat secara visibilitasnya, pelangi tersebut mengubah.

Kemudian, muncul keinginan masyarakat (saya lupa sejak kapan, mungkin bisa dilihat di bukunya Danesi & Perron tahun 1999) untuk mengubah relasi yang di Atas tersebut karena masyarakat tidak hanya hidup dengan alam dan kealamiahan, melainkan juga dengan manusia-manusia lainnya. Dari situ, muncul relasi horizontal yang mengatur hubungan antar manusia. Begitu pun dengan konstruksi sosial. Sejak itu pun, muncul keinginan-keinginan untuk mengkonstruksi tatanan sosial, termasuk memunculkan pelangi tersebut. Dan perdebatan pun dimulai. Dalam relasi horizontal, apakah pelangi tersebut merugikan? Banyak berbagai pendapat, dari segi pro dan kontra yang memperdebatkannya. Perdebatan dari sisi kesehatan, politik, sosial... Permasalahan pelangi pun kini mewarnai perdebatan di antara para akademisi. Tetapi ya jangan terlalu dijunjung juga semua omongan akademisi ya hehe... Data bisa dimanipulasi dengan menambahkan variabel, klasifikasi data mana saja yang akan disertakan, dan sebagainya... Beberapa akademisi juga pragmatis, punya kepentingannya masing-masing hehe... 

Intinya.... duh dari curhat jadi ngomongin hal-hal berbau akademis gini! 

Intinya...

You were a good man, I mean, you are. Always. 

Although my heart was completely broken because you surely might never get the idea of wishing for a particular someone to be a part of your life forever... Having a story together, growing old, and sharing laughs and bad things as well, together... You might never have... But I have... 

And you were gone catching a rainbow, to be a part of it, which I never completely understand the meaning of its colors...

Semoga yang terbaik untukmu, pagiku... (though I still wish for us to experience autumn together!)

1 comment: