Sunday, 18 March 2018

Dan Kelas Sosial Tersebut

[OPINI]

Pertama, saya harus mengungkapkan bahwa saya bersyukur sekali sudah banyak gerakan-gerakan perempuan di Indonesia. Banyak tuntutan perempuan mulai didengar. Perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan, pelecehan seksual, ketidakadilan, juga mulai bersuara dan didengar juga. Gerakan perempuan yang pada awalnya bersifat tertutup, seperti Kartini yang menulis surat atau Kongres Perempuan yang kooperatif terhadap pemerintahan kolonial, mulai berubah menjadi gerakan yang terbuka, masif, dan stabil. Terlebih dengan datangnya tagar metoo dari Barat. Saya bersyukur bahwa mulai ada harapan untuk hidup dengan lebih adil bagi perempuan-perempuan di Indonesia.

Saya yang dalam studi pasca ini pun mengambil topik yang berhubungan dengan isu-isu perempuan tersebut (tentu yang masih bersinggungan dengan linguistik). Kekerasan dalam hubungan pacaran, rumah tangga, kejahatan seksual terhadap anak, UU yang mendiskriminasi, sampai isu perempuan dan politik. Saya sadar banyak sekali tangga yang harus dicapai oleh perempuan untuk hidup dengan adil. Namun... semakin saya mengambil data, kok rasanya ada yang kurang tepat dengan gerakan perempuan ini?

Rasanya... tujuan, suara, hak, persamaan, pemberdayaan itu... kok hanya sampai pada kelas sosial menengah ke atas? Kok lagi-lagi data yang saya temukan masih terus berlaku tidak adil pada kelas sosial menengah ke bawah? Eh, kenapa ini...

Kemudian, saya mencoba untuk mengikuti barisan perempuan hari Sabtu kemarin di taman aspirasi. Luar biasa. Massanya banyak, bahkan ada juga public figure yang mengikuti barisan tersebut. Waah.. Suara yang disampaikan pun sangat inspiratif, berani, dan meyakinkan,

tetapi... apakah cukup mewakili dan menyadarkan?

Apakah cukup mewakili untuk menyuarakan anak-anak perempuan jalanan yang diperkosa sehabis mereka mengamen? Apakah cukup mewakili suara ibu-ibu dan anak-anaknya yang tinggal di lingkungan tidak layak dan tidak sehat dengan anak yang terus lahir? Apakah cukup untuk didengar abang gojek yang pernah melecehkan penumpangnya? Apakah cukup untuk didengar seorang suami yang sehabis pulang bekerja menjadi buruh bangunan berlaku kasar terhadap istrinya karena tidak merasa dilayani karena istrinya sibuk mengasuh anak-anaknya?

Kembali lagi ke kelas sosial tersebut, saya jadi ingat salah satu profesor perempuan di institusi tempat saya menempuh program magister, profesor tersebut mengatakan, feminisme itu sangat barat, tidak cocok di Indonesia. Saya kaget sih tetapi saya sadar kalau saya sedang berkecimpung di dunia akademik. Semua orang boleh berargumen dengan alasannya masing-masing.

Profesor tersebut memulainya dengan contoh padananan kata 'brother' dan 'sister' yang dalam bahasa Indonesia adalah 'kakak' dan 'adik'. Oleh karena bahasa sangat berkaitan dengan kognisi dan budaya, maka padanan kata tersebut dapat memperlihatkan bahwa dalam Barat, konsep gender sangat penting alias harus kelihatan bedanya. Berbeda dengan Indonesia yang konsepnya lebih mementingkan 'strata' atau siapa yang di atasnya siapa.

Argumen profesor saya tersebut dilanjutkan dengan konsep nama. Di Barat, nama perempuan tidak terdengar. Ketika perempuan belum menikah, ia dipanggil dengan menggunakan nama belakang ayahnya. Ketika sudah menikah, panggilan namanya berganti menjadi nama belakang suaminya. Begitu pun dengan anak yang lahir darinya, akan mewarisi nama suaminya. Beliau juga menjelaskan bahwa kesadaran gender di Indonesia sudah ada jauh sebelum Kartini. Pahlawan perempuan dari zaman sebelum Kartini telah berjuang tanpa memedulikan 'saya perempuan'. Di Papua, atau daerah timur sana (karena profesor saya orang lapangan jadi beliau sering ke daerah-daerah), ibu-ibu juga bekerja di ladang, sama seperti bapak-bapaknya secara turun temurun. Baik ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut memiliki tugasnya masing-masing. Dan di sana tidak ada yang koar-koar tentang ketimpangan gender. Cuma di kota aja. Gitu katanya... Hingga akhirnya profesor saya menyimpulkan dengan pernyataan bahwa, yang ada di Indonesia ini adalah pembagian peran, bukan ketimpangan gender.

Tentu saya tidak sepenuhnya setuju karena saya tahu sekali, pun mengalami, bahwa masih ada ketimpangan gender yang tampak subtil. Oleh karena itu saya sangat setuju terhadap pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Tetapi... seperti yang saya bilang sebelumnya, semakin ke sini kok semakin kabur tujuannya... Yang sadar akan ketimpangan tersebut ya kok cuma masyarakat middle class atau masyarakat yang punya sosmed...

Saya sempat merenung, apakah mungkin memang benar, sebenarnya akar masalah gender di Indonesia ini adalah masalah strata. Dalam kelas sosial-ekonomi yang rendah, tentu anak perempuan lebih rentan untuk dinikahkan dalam umur yang sangat muda daripada anak laki-laki yang mungkin memiliki pilihan untuk bersekolah lebih lanjut. Tapi... (tapi lagi), banyak juga anak laki-laki yang tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah walau ingin karena masalah ekonomi tersebut.

Tapi entahlah. Mungkin saya yang tidak tahu kalau ternyata di antara barisan tersebut ternyata ada yang peduli dan memiliki program yang membangun untuk kelas sosial menengah ke bawah juga. Mungkin saya yang tidak tahu kalau ternyata di antara feminis-feminis social media ternyata ada yang turut menyuarakan apa yang dirasakan oleh perempuan kelas sosial tersebut. Semoga saja saya doang yang tidak tahu... Saya masih selalu berharap bahwa suara-suara tersebut pada akhirnya juga akan sampai kepada mereka...
.
.
Btw ini opini saja ya... Hehe. Maafin kalau saya ternyata sotoy hehehe

No comments:

Post a Comment