Monday, 12 December 2016

That Last Rain


We didn't realize until when we came out of cinema, the rain was pouring very hard. We forgot to look on weather forecast, so we ended up not bringing umbrella today. 

"How? Seems like we can't go home now," he said.

"Just go, yuk." I said to him. He looked at me unbelievably.

"No. Don't even think about it. You have your flight the day after tomorrow. You shouldn't be sick in that 13-hour flight."

"So what should we do? Watch another movie? Nooo, it's already late to come home. There wouldn't be another bus if we do so."

"Hmm, just wait a little longer. Maybe the rain will stop soon."

I shook my head. "Nooo... This kind of rain will last til midnight. Believe me,"

I started to take one step further, he immediately grasped my hand. 

I turned to him and smiled happily, "It is okay. Let me enjoy the last rain in this city."

Then I run hard while laughed so hard as well. "Hey, this is fun! Come on! Do it for me please!" Ouch, I had to shout loudly as the rain was pouring so hard.

He shook his head, then smiled and run after me. We both laughed so hard beneath the hard rain that day.

That was a very beautiful memory to remember. We, slowly, walked to the bus stop, as if we enjoyed the rain very much. In fact, yes we did. We enjoyed the rain that day, very, very much. In the midst of people walked hastily to avoid rain, we walked very slowly instead while talking about the movie we had watched earlier.

"You shouldn't be doing this since your hometown is also called a rain city, right?"

"No, there will be different. I wouldn't enjoy rain as much as there wouldn't be someone that will accompany me walking thru the rain. Unlike here." 

He smiled.

Thank you for accompanying walking through the last rain in this city.

#fiction

Tuesday, 6 December 2016

Every Wednesday on Shelter

Den Haag, 2010

It’s winter so that I should be coming home really soon! The watch in my hand already pointed number four. I hastened my steps to the bus stop. Oh damn, walking fast in this slippery road was really hard huh? I tried to maintain my step in balance while it was my heart’s turn to be unbalanced. Yeah, it beat faster since I was afraid that walking beneath the dark sky was a dangerous thing. No danger in a term that such a huge monster would come out and eat me, but danger in a term that I was really afraid of drunk people would likely catcalled me and followed me walking home. That happened once and I didn’t want to experience such situation anymore.

And there, another strange thing happened.

It was already my fourth time seeing you waiting the same bus, on the same schedule, on every Wednesday. Did you have any schedule too by chance on Wednesday? And why did you have to go to another bus shelter which was too far away either from your school or your flat? Or did you want to meet me that bad? #geer. Lol this girl was being too confident.

And like the past three Wednesday(s), I said,

“What are you doing here?” (I believe you would be super bored to hear this intro-question like always)

But then you smiled again and said,

“I’ve just come back from a business.”

A business. But I don’t want to ask further what kind of business that you had on every Wednesday.

So here we were, like the past three Wednesday, sitting next to each other on the shelter bus. We didn’t have too much talk because I realized that we didn’t know each other very well. Nor did I want to try making us know each other better. Just a simple basa basi talk.

But another surprise which usually did not always come in Wednesday, happened.

When we already reached the Centraal Station which meant that we had to take a separate bus, there was a sudden notification spoken through the speaker of Centraal Station.

I did not speak Dutch that well but I understood that it meant the schedule of all buses had to be delayed due to a rough road in winter.

Then I heard you asked me,

“Mind to wait on Kiosk while we having a hot choco?”

Sure, Sir. It was the best offer. And since that hot choco offer, I knew later that it was your chance to make us this close like right now. I knew later, though.



However... Could I ask you this question of every Wednesday we met on the Voorschoten shelter was not by a coincidence right? Hehe.

#fiction

Friday, 18 November 2016

Sesederhana Senyumannya

Si gadis merasa panik. Hari itu ia bangun kesiangan. Ia terpaksa menahan lapar karena tidak ada waktu untuk sarapan. Dengan perut yang lapar dan mata yang masih mengantuk, ia terpaksa berlari mengejar Damri. Jam 7 pagi. Dingin. Ngantuk. Lapar.
Untungnya, Bapak kenek Damri yang baik hati mau memberhentikan Damrinya ketika melihat gadis tersebut berlari kewalahan karena tas yang ia jinjing sangat berat dengan buku-bukunya. Yah, walaupun akibatnya Damri tersebut jadi diklakson beberapa mobil di belakangnya. Kemudian Bapak Damri tersenyum, "Ayo Neng, Dipatiukur!"
Nyatanya senyuman bapak Damri di pagi itu dapat membuat hari gadis itu menjadi lebih baik. Terima kasih bapak Damri.

Gadis itu merasa beruntung karena mendapatkan tempat duduk di Damri yang sedang dalam rush hour. Tak lama kemudian seorang laki-laki masuk dan duduk di sebelahnya. Si laki-laki tersebut langsung mengeluarkan buku dari tasnya dan membacanya. Gadis tersebut sempat melirik sebentar. Buku yang tidak sederhana, tapi si gadis lupa mengingat apa judulnya. Selang beberapa saat setelahnya, terdapat pasangan orang tua yang masuk. Celakanya, tak tersedia tempat duduk lagi di Damri tersebut. Dengan sigap, laki-laki di sebelah gadis tersebut langsung berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada ibu tua tersebut. Sang laki-laki tersenyum dan mempersilakannya duduk.
Nyatanya, senyuman laki-laki yang memberikan tempat duduknya kepada ibu tua tersebut dapat membuat hari gadis itu menjadi lebih baik. Terima kasih untuk Aa di Damri.

Gadis itu merasa sedih dan kecewa karena terdapat hal-hal yang membuat rencanya tidak berjalan semulus yang ia kira. Ia melangkahkan kakinya ogah-ogahan. Ia langsung menaiki angkot untuk menuju tempat berikutnya yang akan ia tuju. Di dalam angkot terdapat dua orang ibu yang menyapanya dengan senyuman, Si gadis pun tersenyum balik. Hal itu membuat harinya sedikit lebih baik. Lalu, ketika si supir angkot tidak terlalu mendengar ucapannya yang memberhentikan angkot karena musik di angkotnya terlalu keras, kedua ibu tersebut langsung membantu gadis tersebut meneriaki abang angkot tersebut. Dengan senyumnya yang ramah, ibu tersebut berkata, "Bade ka Jatinangor, neng? Hati-hati ya,"
Nyatanya, ucapan hati-hati dan bantuan kedua ibu tersebut dapat membuat hari gadis itu menjadi lebih baik. Terima kasih untuk dua Ibu di dalam angkot Kalapa-Dago.

Kemudian gadis tersebut menyadari. Ah, betapa mudahnya membuat hari seseorang lebih baik. Ia pun percaya senyuman turut menyumbang kebaikan untuk sekitar, di antara banyak kebaikan yang ia temui. Ia pun ingin menjadi seseorang yang dapat menebar kebaikan. Sesederhana senyuman orang-orang yang ia temui di hari itu.

---

P.S. Well, buat orang yang susah tersenyum... Hehehe. (I know such person who has that kind of hardly-to-smile) Saya tahu kok, walaupun kamu sulit tersenyum tapi segudang kebaikan kamu yang implisit tersebut sudah turut membantu untuk membuat orang-orang percaya bahwa masih banyak orang baik dan tulus di bumi ini. Setidaknya menurut saya :) Hehehe.

Friday, 21 October 2016

Rindu Jatinangor yang Dulu

Jatinangor, Oktober 2016

'Home feels like home because of the feeling, not a place.'

---

Saya ke sini lagi. Jatinangor lagi. Setelah dua bulan lamanya tidak berjumpa dengan kecamatan kecil yang penuh kenangan.

Saya ingat bagaimana tempat ini pada awalnya adalah tempat asing, hingga akhirnya tempat ini bisa menjadi rumah baru yang memperkenalkan saya dengan orang-orang yang dapat saya sebut keluarga baru. Tempat ini berhasil membuat saya rindu karena kenangan-kenangannya saat kebosanan karena liburan kuliah yang terlalu panjang datang menerpa. Tempat ini menjadi saksi perjuangan saya dan teman-teman, bahkan ribuan orang mahasiswa lainnya, untuk sebuah impiannya masing-masing. Rela tidak pulang-pulang ke rumah, dan menyandarkan keluh kesah juga bahagianya kepada satu sama lain.

Tidak hanya tentang perjuangan, tempat ini juga menjadi penuh cinta karena semua kesepian dan kerinduan kami akan rumah masing-masing dapat tergantikan sementara dengan candaan bodoh ketika makan bareng, nginep bareng sahabat-sahabat tercinta dan berujung jadi curhat sampai larut malam, pusing ngerjain tugas bareng yang pada akhirnya malah jadi gosip dan nobar di laptop, kejadian-kejadian unpredictable di kelas yang bikin ngakak serta kerjaan-kerjaan organisasi yang bikin capek tapi sayang :)

Namun kali ini lain, tempat yang membuat saya rindu ini ternyata kembali berubah menjadi tempat asing seperti saat saya pertama kali tinggal di sini.

Tempat ini menjadi kosong kembali. Bukan karena tidak ada orang di sini, melainkan karena saya tidak menemukan rumah di tempat ini. Semua sahabat-sahabat saya sudah lulus dan menjalani kehidupannya masing-masing. Kalaupun ada yang belum lulus, sahabat saya tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta untuk penelitiannya. Tidak ada lagi orang yang ku kenal di tempat ini.

To stress it again, bukan tentang tempat, Jatinangor masih sama persis seperti saat-saat bahagianya saya dan teman-teman saya dahulu, hanya perasaannya saja yang menjadi berbeda.

---

Menjadi dewasa itu amat menyulitkan ya. Kamu harus siap dengan datang dan pergi lainnya. Kamu harus siap dengan pilihan-pilihan yang tidak pasti tetapi tetap harus kamu pilih. Kamu harus siap dengan mencoba keluar dari zona nyaman kamu. Kamu harus siap dengan tanggung jawab berikutnya. To conclude, kamu harus siap dengan apapun.

Jatinangor tidak lagi menjadi tempat untuk menyandarkan keluh dan bahagia. Saat ini Jatinangor malah menjadi tempat yang menguatkanku dengan mengingatkan,

"Dear Nurina, life goes on. There is no pause nor stop."

---

Note: Baru-baru ini saya kembali ke Jatinangor karena ada urusan tertentu di kampus. Oh iya, alhamdulillah saya sudah lulus menjadi Sarjana Humaniora sejak Juli 2016 lalu. The ups and downs to get that title will be told later in another post :) Sebenarnya setelah lulus saya memang tidak langsung berniat untuk pulang ke rumah for good dan memutuskan untuk tinggal sementara di Jatinangor karena masih ada target yang harus dicapai hehe. Namun, tidak diduga abstrak iseng saya diterima di sebuah konferensi yang membuat saya harus melakukan penelitian lagi; mencari teori lagi, contoh data lagi, padahal dosen yang nyuruh saya ngirim abstrak itu menyarankan untuk mengirimkan saja abstrak skripsi. Idk but I find it super boring to talk about my thesis more than twice already. Dodol banget ya hahaha padahal iseng banget abstraknya jadi kena deh... Konferensi itu juga mau saya tulis di post lainnya ya hehe. Lalu, setelah konferensi itu saya jadi panitia pernikahan mbak sepupu saya tercinta. Ribet sih, tapi karena mbakku bahagia maka aku pun ikut bahagia :) Dan.... Setelah semua itu beres, saya langsung sakit tipes haha. Saya dirawat seminggu lebih. Ya ampun mungkin tubuh saya sudah minta istirahat kali ya, dari jaman skripsi yang gila sampai jadi panitia nikahan tersebut. But that is okay, sesungguhnya dosa-dosa kita kan juga ikut diluruhkan ketika kita sakit. Aamiin.. Makanya karena itulah saya jadi tidak ke Nangor selama itu. Dan voila, begitulah perasaan saya begitu sampai di Nangor kembali :(

Friday, 3 June 2016

Between Fate and Timing

"Fate doesn't come to you, at just any times.
At the very least, if you want to use the term 'fate',
it should happen, often at the most dramatic moments brought by coincidence.
That's what makes it 'fate'.
That's why another term for 'fate' is 'timing'.
If I had not been caught at any of those damn traffic lights,
If any of those red lights had helped me,
even once.
I could be standing in front of her,
as if that was 'fate'.
My first love was always held back by that thing they call 'timing'.
That damn 'timing'.
...
In the end,
'fate' and 'timing' do not just happen, out of coincidence.
They are product of earnest, simple choices that make up miraculous moments.
Being resolute, making decisions without hesitation.
That is what makes 'timing'.
He wanted her more than I did... and I should be more courageous.
It was not the traffic light's fault.
It was not 'timing'.
It was my many hesitations.
...
Life is like a box of chocolate.
You never know what you're going to get.
You may get a bitter chocolate.
There's nothing you can do about it.
This is the 'fate' that I have chosen.
There are no regrets,
nor tears.
And there is no need for heartbreak."

From Junghwan, to the first love he never said that he loved her. To the life they spent together since childhood. To the laugh and dreams they share together. To every Dukseon's heartbreak he was always there. To every walks to school. To every late night he waited her back home.

...and to regrets he broke his heart for. Just because he never said it.

---

Sounds cliche, right? But you should watch it by yourselves to know that this simple drama about family, friendship, modesty, and love can bring your heart to joys and heartbreaks.

((Reply 1988))



Friday, 29 April 2016

Hello, Captain.

Hello, Captain.

This is command.

Copy this, please.

I want to see you soar. Above sky or higher.
The weather outside is nice. Even if it is not, you can always make it nice.
Depend on how you see it.
Maybe from north, it is dark, too cloudy, so your plane may get difficult to fly.
But from south, it is nice, the wind is favorable, so you can see it clearly where your plane will be heading to.
You are the pilot itself, so the handle of your plane is on your own favor.

Hello, Captain.

This is command.

Copy this, please.

I want to see you fly. Above sky or higher.
You are now flying in a number of feet above sea level. It depends on your favor where you want your plane to be.
If it is higher, the possibility of air pressure will get stronger. But you will see a better view.
It depends.
You are the pilot itself, so the handle of your plane is on your own favor.

Hello, Captain.

This is not a command.

You don’t have to copy this.

I believe that you can soar and fly. Whether it is higher or faster.
I know how you always get mad whenever you feel stuck and restricted.
I know how you always get anxious when you couldn’t get faster.
I know very well this ambitious guy.
Believe me; flying is not always about higher or faster.
You are worth all the pain and efforts so nothing to worry.
Just soar and fly.

I will let you soar and fly.
You will soar and fly. Above sky or higher.
So high ‘til I even can’t see you.
I let you free so that you will have more room to fly.


From me, that always waits for your coming home. From this land to another land, until only we who understand.


Saturday, 16 January 2016

The Random "Magang"

Yeay! My first post in 2016!

Anyway, this holiday should be awarded as the most random, spontaneous ever after 21-year living.

Kenapa? Karena tiba-tiba aja saya mengisi liburan ini dengan magang.

Prosesnya sangat panjang deh ceritanya. Iseng banget sumpah karena saya bukan tipe orang yang suka bekerja. Saya jauh lebih suka belajar; membaca jurnal, membuat paper analisis, atau memahami teori daripada bekerja. Walaupun belajar bisa di mana aja sih termasuk magang ini. Tetapi karena jurusan saya tidak menganjurkan mahasiswanya untuk magang jadi saya merasa tidak perlu. Mungkin karena persepsi orang-orang mengenai jurusan kami adalah menjadi peneliti, ilmuwan, sastrawan, penulis, penerjemah, bukan sesuatu yang aplikatif di lapangan sehingga tidak ada mata kuliah magang atau Job Training. Saya juga lebih ingin jadi seorang ahli linguistik saja daripada karyawan. Tapi gak ada salahnya tiba-tiba mencoba magang. 

Liburan-liburan saya sebelumnya juga selalu diisi dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan. Seperti les membatik mulai dari batik Yogya, Solo, sampai batik Sunda lulus deh tuh wkwk. Lalu ada cerita liburan mengeksplorasi sejarah Majapahit dan Jawa kuno bersama teman-teman IYCCA. Terus belajar melukis dengan media getah karet. Dan sisanya ikut semester pendek karena dahulu saya bercita-cita untuk lulus cepat. DULU. Wkwkwk. Dulu loh.

Jadi awalnya, saya dan teman saya, Wisny, sama-sama mau magang. Jadi kami barengan terus tuh mengurusnya dari awal bulan Desember. Mulai dari ngurus surat magang yang super ribet (Zbl deh sama birokrasi fakultas kami), dan akhirnya kami melamar magang tanpa surat kampus tapi surat permohonan pribadi wkwk. Setelah semuanya terkumpul dan juga mencocokkan jadwal, akhirnya kami berangkat tuh ke Jakarta. Saya dari Bogor dan dia dari Depok. Kami langsung menuju gedung Kompas Gramedia majalah di Kebon Jeruk. Why KG? Karena di situ ada majalah Bobo huhuhu. Impian saya dari dulu untuk jadi penulis anak-anak. Dan satu-satunya wadah yang bisa menampung saya untuk belajar ya majalah Bobo itu. Tapi akhirnya kami ditolak karena perusahaan tersebut cuma mau menerima peserta magang dari Fikom. Huhuhu whyyy. Saya kan juga belajar membaca-menulis dari semester 1-4 dengan jatuh bangun karena membaca dan menulis tidak sesederhana yang dikira, saya mempelajari children literature dengan susah payah, bahkan 4 paper penelitian saya objeknya adalah anak-anak.... :'(

Ya sudah, life goes on ma bro. Setelah mencoba lagi namun sudah penuh di mana-mana (karena mendadak juga sih ngurusnya, biasanya mengurus magang tuh 2-3 bulan sebelumnya) akhirnya saya sempet pasrah. Ya sudah lah, mungkin liburan kali ini emang waktunya ngurusin skripsi dengan fokus. Tetapi hidayah tiba-tiba muncul wkwk. Saya mau cari magang di luar Jakarta! Nah, tiba-tiba saya kepikiran untuk magang di luar Jakarta. Sekalian liburan. Apalagi kalau magangnya di tempat yang menenangkan seperti Nusa Tenggara atau Kalimantan. Akhirnya Dinas Pariwisata menjadi pilihan saya karena tempat tersebut mewadahi kecintaan saya untuk jalan-jalan dan bersenang-senang hahaha. Dan…. Saya akhirnya magang di Dinas Pariwisata kota Batu mulai Senin besok! Dan secara mendadak juga akhirnya saya berangkat ke Nangor untuk mengurus surat magang, dan kerennya, yang kedua kali itu surat magangnya langsung jadi sehari! (Coba dari dulu deh Pak....)

Kota Batu itu awalnya secara administratif satu kota dengan Malang. Tetapi akhirnya Batu menjadi kota sendiri. Batu dengan hawanya yang sejuk karena daerah pegunungan dan banyak kebun apel, saya rasa akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk mengisi 5 minggu kegiatan magang ini! Saya bisa naik sepeda setiap hari ke tempat kerja, terus pulangnya minum susu atau makan ketan susu. Ahhhh can’t wait! Tapi di satu sisi saya deg-degan parah juga sih soalnya ini pertama kalinya saya bekerja secara profesional wkwkw. Biasanya kan cuma ikut kepanitiaan atau mengajar. Ya ampuuun. Semoga nyaman dan menyenangkan deh! Duh, deg-degan sekali!