Friday, 18 November 2016

Sesederhana Senyumannya

Si gadis merasa panik. Hari itu ia bangun kesiangan. Ia terpaksa menahan lapar karena tidak ada waktu untuk sarapan. Dengan perut yang lapar dan mata yang masih mengantuk, ia terpaksa berlari mengejar Damri. Jam 7 pagi. Dingin. Ngantuk. Lapar.
Untungnya, Bapak kenek Damri yang baik hati mau memberhentikan Damrinya ketika melihat gadis tersebut berlari kewalahan karena tas yang ia jinjing sangat berat dengan buku-bukunya. Yah, walaupun akibatnya Damri tersebut jadi diklakson beberapa mobil di belakangnya. Kemudian Bapak Damri tersenyum, "Ayo Neng, Dipatiukur!"
Nyatanya senyuman bapak Damri di pagi itu dapat membuat hari gadis itu menjadi lebih baik. Terima kasih bapak Damri.

Gadis itu merasa beruntung karena mendapatkan tempat duduk di Damri yang sedang dalam rush hour. Tak lama kemudian seorang laki-laki masuk dan duduk di sebelahnya. Si laki-laki tersebut langsung mengeluarkan buku dari tasnya dan membacanya. Gadis tersebut sempat melirik sebentar. Buku yang tidak sederhana, tapi si gadis lupa mengingat apa judulnya. Selang beberapa saat setelahnya, terdapat pasangan orang tua yang masuk. Celakanya, tak tersedia tempat duduk lagi di Damri tersebut. Dengan sigap, laki-laki di sebelah gadis tersebut langsung berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada ibu tua tersebut. Sang laki-laki tersenyum dan mempersilakannya duduk.
Nyatanya, senyuman laki-laki yang memberikan tempat duduknya kepada ibu tua tersebut dapat membuat hari gadis itu menjadi lebih baik. Terima kasih untuk Aa di Damri.

Gadis itu merasa sedih dan kecewa karena terdapat hal-hal yang membuat rencanya tidak berjalan semulus yang ia kira. Ia melangkahkan kakinya ogah-ogahan. Ia langsung menaiki angkot untuk menuju tempat berikutnya yang akan ia tuju. Di dalam angkot terdapat dua orang ibu yang menyapanya dengan senyuman, Si gadis pun tersenyum balik. Hal itu membuat harinya sedikit lebih baik. Lalu, ketika si supir angkot tidak terlalu mendengar ucapannya yang memberhentikan angkot karena musik di angkotnya terlalu keras, kedua ibu tersebut langsung membantu gadis tersebut meneriaki abang angkot tersebut. Dengan senyumnya yang ramah, ibu tersebut berkata, "Bade ka Jatinangor, neng? Hati-hati ya,"
Nyatanya, ucapan hati-hati dan bantuan kedua ibu tersebut dapat membuat hari gadis itu menjadi lebih baik. Terima kasih untuk dua Ibu di dalam angkot Kalapa-Dago.

Kemudian gadis tersebut menyadari. Ah, betapa mudahnya membuat hari seseorang lebih baik. Ia pun percaya senyuman turut menyumbang kebaikan untuk sekitar, di antara banyak kebaikan yang ia temui. Ia pun ingin menjadi seseorang yang dapat menebar kebaikan. Sesederhana senyuman orang-orang yang ia temui di hari itu.

---

P.S. Well, buat orang yang susah tersenyum... Hehehe. (I know such person who has that kind of hardly-to-smile) Saya tahu kok, walaupun kamu sulit tersenyum tapi segudang kebaikan kamu yang implisit tersebut sudah turut membantu untuk membuat orang-orang percaya bahwa masih banyak orang baik dan tulus di bumi ini. Setidaknya menurut saya :) Hehehe.

No comments:

Post a Comment