Saturday, 19 December 2015

To Joke the Ignorant

Headnote: Sorry, this post comes from someone yang gak tahan sama suasana panas orang berantem atau berdebat :(

---

Thank God I still can make people laugh,
…instead of bullying other people with the thing called intelligence.

Alhamdulillah ya jaman sekarang emang udah banyak orang cerdas dan bisa berargumen dengan sangat persistent (I didn’t say good, sorry hehe), tapi sedih juga kalau kecerdasan mereka itu digunakan buat ngebully orang lain yang mempunyai perspektif berbeda dengan mereka.

Kemutlakan orang (yang mengaku) cerdas jaman sekarang, “Saya tahu mana yang benar – dan yang lain salah.”

That’s why I never like the word such “smart-stupid". Klasifikasi seperti itu sepertinya hanya dibuat oleh orang-orang yang kekeuh dan gak pernah mau mencoba untuk mendengarkan, apalagi memahami, perspektif yang berbeda dengan mereka.

That’s why I prefer the word “ignorant - non-ignorant” people karena menurut saya gak ada orang bodoh dan cerdas secara mutlak. Yang ada adalah orang “ignorant” yang akan selalu merasa benar. They will close their world to anything that is likely to enter. They build their wall high so that they would think they are on the top of the world. Padahal, jauh di sana ada sebuah dinding yang dapat membuatnya berdiri lebih tinggi. Mereka gak bisa melihatnya karena mereka pikir itu sebuah dinding yang pendek. Mereka berpikir seperti itu karena mereka melihatnya dari jauh. Again, it is about perspective.

Orang-orang "ignorant" itu hanya butuh memahami, kok. Tidak perlu sampai pada penerimaan karena setiap orang dan setiap perspektif memang pasti akan selalu berbeda.

Ya, gapapa sih kalau saya ketemu orang "ignorant" kayak gitu. I just would never be interested to share minds or thoughts with them. Kalau beda pendapat sedikit pasti langsung mati-matian dihakimi sebagai suatu kesalahan :( Males deh...

But if I were them and then I found someone/people who show their ways to annoy me, I prefer to joke them instead of being the I-Know-Everything along with sumpah serapah dan judgement yang menjijikkan. Hftttt.  

Joking is the most intelligent way to say your opinion or argument. Kalau yang dituju tidak mengerti, ya aku sih malah tambah ketawa :’)


Pusing ah, mau mikirin skripsi dulu aja…

Tuesday, 8 December 2015

Pagi

Matamu itu seperti lansekap pagi.
Sejuk dan menenangkan.
Dan untuk pagi yang kesekian kalinya,
aku masih mengekalkan pagi di matamu itu.

...

Apakah pagi juga berarti sama bagi semua orang?

Sunday, 29 November 2015

Risotto dan Kehidupan

Apa arti kehidupan yang sebenarnya?

Pertanyaan itulah yang menjadi bahasan utama dalam pembacaan puisi dan diskusi puisi Hermann Hesse di Goethe Institut, Sabtu kemarin.

Semenjak les Bahasa Jerman di Goethe Institut, saya jadi iseng mulai melirik karya-karya sastra Jerman. Sebelumnya, saya tidak pernah tahu kalau Jerman punya karya sastra se-menarik itu. Saya kira Jerman adalah sebuah negara yang hanya mengedepankan sisi teknologinya saja. Saya pun baru tahu kalau Goethe, nama institut tempat saya belajar Bahasa Jerman, diambil dari seorang penyair masyhur dari negara tersebut. Goethe yang se-terkenal itu saja belum pernah ku baca karyanya. Apalagi Hermann Hesse. Siapa pula dia.

Lalu dimulailah keisengan tersebut. Setelah cabut dari tempat les dengan alasan bohong (huhu maaf banget), aku pergi menemui teman-temanku di ITB Insight Festival. Saking keponya sama acara ini, aku jadi tega-teganya membohongi meine lehrerin yang super baik. Tetapi sayangnya, acara tersebut tidak sesuai sama ekspektasi saya. Saya dan teman-teman saya baru mulai bergabung jam 4an. Tetapi wahananya sudah banyak yang tutup. Tempatnya pun sudah keburu banyak sampah dan lautan manusia yang membuat saya jadi pusing wkwk lemah. Jadi akhirnya saya dan teman-teman saya hanya bertahan di sana sampai magrib. Selesai magrib, Novri dan Audi memilih untuk lanjut ke PVJ tetapi aku dan Ineza masih mikir-mikir gak mau buang-buang duit wkwk. Tiba-tiba aku ingat kalau di Goethe ada pembacaan puisi dan diskusi puisi Hermann Hesse. APALAGI disuguhi makanan gratis Eropa, langsung dari kedutaan!! Setelah mendengar iming-iming makanan Eropa gratis langsung dari kedutaan, akhirnya Inez pun bersedia menemaniku ke Goethe. Hihi.

Sesampainya di sana, kami duduk di antara kepulan asap rokok. Huh. Bete juga sih. Tetapi setelah mendengar puisi Herman Hesse dibacakan, all the worriness, grumpiness, has just... vanished! Gilak! Merinding bahkan dari larik pertama. Entah karena terjemahannya yang begitu indah, pembacaannya yang memukau, atau karena puisi Hermann Hesse memang seindah itu walau baru pertama kali didengar.

Diskusi dan Pembacaan Puisi Herman Hesse

Berbeda dengan penyair-penyair Jerman lainnya yang justru liriknya menyiratkan kesedihan, duka mendalam atau kebencian, Hermann Hesse ini justru menyuarakan optimisme dan keindahan alam. Mungkin ia satu suara dengan Goethe. Dan ada satu pembahasan yang menarik ketika membahas aliran Hesse ini; Ia seorang sufi.

Sufi. Sufisme, I don't know much about that thing yang saya tahu itu biasanya penyair-penyair beraliran tersebut adalah seseorang yang suka menyendiri merenungkan kehidupan. Sunyi. Benar-benar kedamaian yang ia inginkan. Mereka adalah orang yang selalu merindukan dan memuja tentang ke-Esa-an. Dan biasanya membaca karya-karya sastra beraliran tersebut pasti bikin saya pusing wkwk. 

Perdebatan dan perbincangan tentang sufisme Hesse berlangsung seru. Dari sekian pertanyaan, empat pertanyaan di antaranya menanyakan sufisme Hesse tersebut. Pembicaranya adalah Herr Damshausser yang sudah menetap di Indonesia lebih dari 40 tahun dan ia juga menjadi penerjemah puisi-puisi Hesse ke dalam Bahasa Indonesia, serta Kang Agus seorang pakar sastra Jerman. Di sana mereka menjelaskan bahwa banyak filsuf dan penyair Jerman yang terkenal beraliran sufisme. Contohnya adalah Nietzche dan Hesse ini. Hanya bedanya Nietzche pada akhirnya mengikuti aliran Kahlil Gibran dan Hesse mengikuti aliran Jalaludin Rumi.

Wha --- Saya baru tahu kalau Gibran itu sufi.

Lalu Kang Agus menjelaskan lagi. Bedanya, Gibran dan Nietzche itu seorang sufi atheis. Sebuah paradoks memang. Seorang sufi kok atheis? Jadi, Kang Agus menjelaskan bahwa sufi tersebut mencintai keagungan sang Esa tetapi tidak mengakuinya. Hmm. Kang Agus mengibaratkannya sebagai seorang laki-laki yang sangat mencintai seorang perempuan tetapi ketika perempuan itu datang dan mengetuk pintu rumahnya, ia tidak mau membukakannya. Laki-laki itu tidak mau menemuinya.  

Hmm.. Ya sudahlah saya juga pusing haha. Ilmu sastra saya masih secetek kobokan Talijiwo wkwk. Baru belajar sampai Survey of Contemporary Literature wkwk. Tapi yang jelas, setelah mengikuti diskusi tersebut pemikiran saya terbuka lagi. Saya belajar hal baru dan saya selalu menikmatinya setiap mengetahui hal-hal baru. Wow, ternyata sedalam itu pemikiran sufisme. Ya ampun. Saya yang mikirin skripsi aja udah pusing HAHAHA. 

Bagaimanapun, saya kecewa juga kemarin. Salah satu alasan saya datang ke sana kan karena hidangan santapan Eropa gratis haha. Tapi sudah jam 10 makanan belum boleh dinikmati juga. Lalu karena saya takut kehabisan travel ke Jatinangor makanya saya langsung pulang di tengah diskusi sebelum mencicipi kue-kue lucu Jerman, the tempted drinks, macaroni schotel, dan... risotto!!! Oh my.... My favorite.....

Risotto yang tidak kesampaian (cry)

Trees - now is my favorite of Hesse


Thursday, 12 November 2015

Things I Learned from PEF


Headnote:

PEF: Padjadjaran Education Festival. Sebuah acara yang diselenggarakan untuk murid SMA sederajat se-Indonesia dan bertujuan untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka tentang Unpad.

--

Minggu kemarin, tanggal 8 November 2015, acara PEF secara resmi selesai, acara yang sudah kami persiapkan bersama sejak tiga bahkan empat bulan yang lalu. Sedih, senang, haru, lelah, merasa kangen, dan sebagainya bercampur aduk jadi satu. Klise, perasaan umumnya yang dirasakan oleh panitia ketika acara bubar. Tapi kali ini, aku mau menceritakan perbedaannya.

Niat saya untuk menjadi panitia di acara ini adalah mengisi kekosongan semester 7. Mengisi kekosongan. Iseng banget. Ya, karena seharusnya saya sudah SUJS dari semester kemarin dan seharusnya sudah bisa lulus paling lambat, maksimal, bulan Desember ini (udah diceritain di post sebelumnya). Seharusnya. Tapi ya sudah. It is okay. Pasti selalu ada hikmahnya. J

Lalu akhirnya saya mendaftarkan diri jadi panitia. Karena pejabat-pejabat tinggi di PEF adalah lingkaran teman-teman saya semua; mulai dari PO, Kabid, Koor, maka dengan mudah saya masuk PEF. Wawancara hanya formalitas belaka. Bahkan tadinya saya ditawari jadi Koor dengan mudahnya oleh Kabid yang teman dekat saya sendiri. Tapi karena gak pernah punya pengalaman di PEF sebelumnya, akhirnya saya memutuskan untuk jadi staff saja. Dan dimulailah pengalaman saya menjadi staff divisi Dokumentasi, Bidang Kreatif di PEF ini.

Awalnya, divisi ini susah sekali kumpul. Wajar sih, karena orang-orang yang memilih dokumentasi pasti orang-orang yang ingin kerja gampang, cepat, tapi bisa masuk ke dalam acara besar seperti PEF ini. Itu stereotip saya aja sih karena ternyata mereka memang orang-orang yang sibuk namun jago sekali dalam bidang fotografi dan publikasi. Tugas divisi kami adalah membuat desain ID Card, Sertifikat, membuat video-video persuasif tentang PEF, dan mendokumentasikan setiap rangkaian acara mulai dari roadshow hingga hari H. Alhamdulillah semua sudah kami selesaikan.

Alhamdulillah, saya punya teman-teman divisi yang kompak dan menyenangkan. Kalau malas, malas bersama. Kalau gak mau ikut rapat, gak ikut bersama. Bekerja dengan mereka pun jadi menyenangkan dan tidak dibawa beban. Kami sering kena eval karena “keliatan” gabut sih. Tapi gabut karena memang acaranya telat parah sampai 2 jam belum dimulai. Terus apa yang harus didokumentasikan coba? Sialnya, saya dan koor sebagai “tetua” lagi gak ada di sana waktu evaluasi sehingga tidak ada yang bisa membela divisi kami. Kasian adik-adikku tersayang kena eval sama PO, huhu.

Dan, sebagai bagian dari yang turut menyelenggarakan acara sebesar ini, tentu banyak pelajaran yang dapat saya ambil.

Pertama, ternyata memang susah bekerja dalam lingkaran teman sendiri. Bawaannya menjadi lebih under-pressure loh malahan. Gimana ya, justru karena dekat jadi segala sesuatu malah dilakukan berdasarkan ego pribadi, bukan profesionalisme. Sebagai contoh, Kabid saya lebih sering mengamanahkan saya untuk suatu hal, padahal ada yang lebih bisa bekerja dalam bidang tersebut daripada saya. Atau seperti dengan mudahnya menunjuk teman saya yang lain karena mereka dekat untuk menjadi LO si artis besar sehingga menuai beberapa ‘keirian’ dari stafnya yang lain. Atau dari saya sendiri jadi lebih ‘gak enak’ untuk protes karena gimana ya… Kan itu teman saya sendiri. Mulai dari hal sepele kayak tata bahasa yang kacau parah, Inggris-Indonesia yang campur sari sok asik, untuk publikasi. Atau dari telatnya acara waktu H-1, sampai 2 jam, apalagi saat itu banyak anak-anak SMA yang mulai gak betah menunggu dan minta izin sama staff kayak saya yang gak ngerti apa-apa untuk keluar ruangan. Tapi saya gak tega buat protes karena muka teman saya itu capek banget. Saya jadi kasian…

Tapi ya namanya kepercayaan mungkin memang tidak bisa dengan mudahnya dibangun buat orang baru. Mungkin niat teman-teman saya dalam lingkaran pejabat tinggi PEF itu ya karena kepercayaan dan ikatan yang tidak perlu dibangun lagi.

Kedua, nah ini penting sih menurut gue. JADI ORANG JANGAN BAPER-BAPER AMAT. Waktu saya kerja di lingkup yang lebih kecil, hal itu jarang terjadi karena kompleksitas dan kecapekannya yang masih biasa aja. Tapi giliran kerja di acara yang besar kayak gini… Itu jadi penting banget pemirsah! Jujur, kerja dibawa beban itu capeknya malah jadi berkali-kali lipat. Makanya saya menghindari banget buat kumpul sama orang yang ngeluh dan nangis terus, pas acara kayak gini. Memang pernah terjadi beberapa urgent di bidang saya, dan kabid saya malah baper-in semua hal itu… Maksudnya, come on, semua pasti akan selesai dan indah pada waktunya. Slow. Kalem. Karena kalo lo malah panik, nangis, dan marah-marah, itu gak akan buat masalah itu selesai dan malah nular ke staff-staff lo. Jujur, saya sedih pisan pas beliau nangis karena doi teman dekat saya banget. Tapi, saya gak suka ketika staff-staff yang lain jadi pada ikutan bingung dan resah karena kelakuan beliau yang baperin hal tersebut yang seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan kalau gak baper.

Tetapi ya di luar semua itu, acara ini sudah oke banget! Hampir 8.000-an pengunjung yang datang merasa puas dengan kerja keras kami semua. Alhamdulillaaaaah.

Semua kendala-kendala yang saya sebutkan tadi menjadi sangat kecil dan tidak sebanding dengan suksesnya acara ini diselenggarakan.
P.S. Lavvvvv you divisi ghibah hahaha. Inez dan Lidya teman kreatif bareng dan teman ghibah bareng juga (only us who can understand our kabid that much). Tisuy yang rela kerja keras buat kreatif, it is okay tis. Lain kali dibawa senang aja. We were always be there to help you kok. Mamat yang sabar banget wkwkwk. Suka kasian liat mukanya kayak sabar banget haha. Vera dan Bunga sebagai sandaran di ruang panitia ketika lelah mondar-mandir panas-panasan di lapangan. Elsa yang rela mau mayungin kamera gue saat hujan buat merekam para performers. Cowok-cowok Dekor, divisi tetangga, terutama Rula yang sangat menghibur hahaha. Bakal kangen sih pasti hiks hiks.


Roadshow to Ciamis.

With partner yang sabar dan baik hati, Agung tapi dipanggilnya Nia.



Nurin - Bunga - Lidya - Shifa - Hida

Yehet  Minus Vera nich.


Lidya - Vera - Nurin

Still happy dong.


Nurin - Inez - Lidya

Bhinneka Divisi, Bidang Kreatif Tunggal Ika.


My Lovely Divisi Ghibah xoxo


Cowok-cowok penghibur.

P.S. Rula gemayy! Hahaha.


#np NAIF - Di mana Aku Di sini

Saturday, 19 September 2015

Sastra dan Sejarah


             Dulu, sewaktu sekolah, saya paling sebel sama pelajaran Sejarah. Soalnya setiap waktu pelajaran tersebut saya harus membuat rangkuman yang ditulis tangan dan tentunya rangkuman tersebut gak sedikit. Sampai 4 lembar malah kadang saya merangkum. Sebel, kan pegel. Belum lagi ujiannya yang super sulit. Bayangin aja foto para pahlawan yang saya aja takut liatnya dan sudah buram juga harus dihapalkan. Lalu ketika ujian dimulai, saya harus menebak foto siapakah itu? Belum lagi memori saya yang gak bagus buat hafalan dipaksa harus mengingat tanggal-tanggal kejadian bersejarah beserta nama-nama orang yang gak mudah untuk diingat. 

             Tetapi semenjak saya masuk jurusan Sastra, justru sejarah menjadi dekat sekali dengan saya. Ibaratnya tubuh, nadi dari Sastra adalah peristiwa sejarah. Sastra itu dibentuk dari potongan-potongan narasi, dan narasi itu disusun oleh waktu, dan waktu adalah Sejarah. Saya memang anak Sastra Inggris sehingga karya yang saya baca malah berhubungan dengan sejarah-sejarah di negara-negara berbahasa Inggris, mulai dari Inggris, Amerika, hingga Afrika Selatan. Seperti peristiwa sejarah saat jaman kolonialisme Inggris ke negara-negara Asia dan Afrika dalam Shooting an Elephant yang mengungkapkan kejamnya penjajahan di Burma, atau Civil Peace yang menggambarkan sedihnya kehilangan keluarga karena perang di Nigeria. Ada juga peristiwa Civil War di Amerika yang melahirkan kesenjangan karya-karya sastra yang sangat berbeda di Amerika bagian utara yang modern dan Amerika bagian selatan yang ‘kumuh’ hingga akhirnya lahirlah pidato luar biasa yang dikenang sejarah dari Martin Luther King, Jr. Seperti itulah karya-karya sastra berkembang karena ditempa oleh pahitnya masa-masa kelam dari sejarah hingga akhirnya muncul karya Sastra kontemporer dan lahirnya kebebasan yang menciptakan berbagai jenis penulis mulai dari penulis berkulit hitam, feminis, hingga saat ini maraknya penulis Sci-fi, dan metropop.

            Di Indonesia, karya Sastra berkembang tidak kalah hebatnya. Walau memang tampak tenggelam dan tidak terderngar karena masih banyak orang Indonesia yang malas baca (bukan illiterate) namun ia terus lahir. Belakangan ini, saya mulai membaca karya-karya Sastra Indonesia lama mulai dari angkatan Balai Pustaka sampai angkatan 70. Awalnya saya membaca karena tuntutan yaitu kajian Comparative Literature (Sastra Bandingan) pada suatu mata kuliah. Lalu saya akhirnya mencoba membaca karya-karya lama itu untuk pertamakalinya karena guru Bahasa Indonesia saya sewaktu sekolah tidak pernah menyebutkan karya-karya tersebut sehingga saya buta akan kesusasteraan lama Indonesia. Ternyata saya benar-benar dapat dibuat merinding gara-gara baca karya-karya tersebut. Setiap karya Sastra tersebut mempunyai pesan sendiri, apalagi karya Sastra tahun 60-80 yang seperti menggebrak dan melakukan pertentangan dari karya Sastra sebelumnya, yang banyak dikontrol oleh kolonial, pemerintah, terutama (mungkin) gara-gara gerakan 30 September. Tetapi walaupun berlatar belakang sejarah, tetep aja saya suka novel-novel romansa, makanya saya suka Amba dari Laksmi Pamuntjak, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Umar Kayam, Leila S. Chudori dan banyak lagi. Dari membaca karya-karya kesusastraan lama tersebut, saya belajar banyak mengenai Indonesia. Indonesia dalam Sastra Indonesia ternyata tidak hanya menyangkut masalah geografi saja melainkan juga politik yang sangat kejam dan berlika-liku.

            Lalu setelah itu, saya menyadari bahwa sebenernya bukan hal yang sangat buruk kalau saya masuk jurusan Sastra. Saya gak akan pernah mau menyepelekan Sastra lagi. Sastra itu menyuarakan apa yang tidak bersuara. Buktinya, penulis-penulis angkatan 45 hingga tahun 80 banyak yang masuk penjara karena tulisannya. Sastra menyajikan apa yang orang tidak tahu dari permukaan. Ketika berita banyak dikontrol oleh politik dan kepentingan sana-sini, Sastra bersuara,  Seperti yang dikatakan oleh Mas Seno Gumira, “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.” Memang sih, sekarang kita hidup di jaman yang sudah serba enak, terus akhirnya jadi banyak yang mempertanyakan ngapain juga repot-repot mikirin masa lalu. Membaca karya sastra pun jadi kelihatan gak penting lagi karena mereka sudah bisa mendapatkan status sosial, cukup dengan buku pelajarannya. Tapi justru itu yang serem... Menciptakan orang pintar jaman sekarang menurut saya mudah. Mungkin sama mudahnya dengan memproduksi Indomie di pabrik. Saat ini juga sudah banyak tempat les bertebaran di mana-mana, belum lagi dukungan internet dan teknologi yang memadai. Tetapi ya itu mereka akhirnya (mungkin) cuma jadi kayak robot. Hidup untuk bekerja, bekerja untuk punya gadget paling baru, punya mobil minimal dua, sudah deh selesai. Akhirnya saking ketatnya persaingan orang-orang pintar tersebut, mereka jadi menghalalkan segala cara untuk memuaskan dirinya dan keluarganya sendiri. Lama-lama mungkin Jakarta udah jadi kayak New York; senjata dilegalkan, kriminalitas di mana-mana. Gak tau ding, saya gak mau negative thinking, ah. 

Makanya itu menurut saya untuk menyeimbangkan, orang-orang pintar tersebut harus mau membaca (bukan cuma buku pelajaran) karena Sastra dapat membuat mereka kembali membumi. Sastra dapat membuat mereka melihat dari banyak sudut pandang. Sastra juga terkadang mempunyai ideologi implisit yang ingin disampaikan penulis yang membuat pembacanya menjadi "peka". Orang yang suka membaca jadi punya pikiran yang lebih terbuka untuk menerima suatu hal yang baru tapi tentu tidak langsung ditelan mentah-mentah. Orang yang suka membaca juga tentu akhirnya menjadi kritis karena pikiran yang terbuka tersebut. Semoga pada akhirnya Sejarah tersebut tidak akan terulang kembali, atau lebih seramnya malah terciptanya Sejarah baru tentang degradasi ‘nilai’ manusia.



:(

Thursday, 11 June 2015

For My Dearest Sister

I am extremely happy to get the news today. Kakak saya akhirnya lulus, dengan nilai A. Selamat ya.

I am so proud seeing your achievements this far.

Terharu. Bangga. Bahkan kadang gak percaya juga. But you already made this far. Congrats.

Saya tahu bagaimana perjuangan dia. We were born not too far. Kami berbeda 1 tahun pas. Kakak saya lahir pada bulan Desember 1993 dan saya lahir Desember 1994. Kakak saya lahir dengan ukuran katup jantung kiri dan kanan yang berbeda. Pada usia beberapa bulan, ia harus menjalani operasi berat dan mencakup bagian dalam karena kelainan ukuran katup jantung tersebut membuat katup tersebut bocor sehingga darah kotor dan bersih tercampur. Ia tidak bisa makan, bahkan berguling ke kiri dan kanan saja membuatnya tidak bisa bernafas. Bapak saya adalah pegawai baru di sebuah BUMN sehingga gajinya tidak sebegitu besar. Alhamdulillah, biaya operasi kakak saya itu dibiayai oleh perusahaan tempat bapak saya bekerja. Akhirnya kakak saya yang masih terhitung bayi tersebut menjalani operasi sangat dalam, di jantungnya. Alhamdulillah, Allah memang Maha Berkuasa atas segalanya, bayi yang biasanya tidak kuat untuk dioperasi besar seperti itu, kakak saya bertahan. Operasinya berhasil. Walau selama 3 bulan berikutnya ia masih harus tinggal di rumah sakit, dan saya jadi diasuh oleh kakek dan nenek saya.

Saat itu saya percaya bahwa dia adalah orang yang kuat.

Kami berdua tumbuh bersama-sama. Ternyata bukan hanya masalah jantung saja yang dialami oleh kakak saya waktu itu, ia memang masih harus kontrol jantungnya sampai 6 tahun kemudian, tetapi ternyata kemampuan motoriknya juga terganggu. Saya dapat berbicara dan berjalan jauh lebih cepat daripada kakak saya. Saat saya sudah bisa berjalan dan memanggil bapak dan ibu saya, kakak saya masih merangkak. Walau begitu ibu saya bercerita, bahwa ia seringkali berusaha memanggil saya dan mengajak saya berbicara dengan berkata, 'ndek...' (adek). Akhirnya pada usia 3 tahun baru kakak saya bisa berjalan, di mana anak-anak normal lainnya sudah dapat berjalan ketika menginjak usia 1 atau 1.5 tahun. Ia dapat berbicara walau banyak cadel di sana-sini dalam setiap katanya. Namun ia tetap berusaha mengajak saya berbicara.

Saat itu saya percaya bahwa dia sangat menyayangi saya.

Alhamdulillah setelah terapi beberapa kali kakak saya dapat berbicara normal, tidak tampak kecadelan dan cacat kata di sana-sini lagi. Kami berdua mulai masuk sekolah bersama. Karena keterlambatan kakak saya itu, akhirnya kami berdua masuk di angkatan yang sama, Kakak saya menunda sekolah satu tahun. Saat itulah ibu saya mulai memperlakukan kami berdua seperti anak kembar. Kami dibelikan baju serupa, tas serupa, tempat bekal serupa, dan hal-hal serupa lainnya. Awalnya saya tidak mempermasalahkan hal tersebut hingga saya mulai beranjak besar. Saya ingin tas lainnya, sepatu lainnya, yang tidak serupa dengan milik kakak saya. Tetapi kakak saya selalu mengikuti saya hingga seringkali kami bertengkar. Padahal harusnya saya tahu, ia mengikuti saya karena ia menyayangi saya.

Saat kami mulai masuk sekolah dasar, kami duduk di bangku sekolah yang sama hingga SMA. Saat itu banyak yang membandingkan saya dan kakak saya. Mereka bilang kami berbeda. Saya jauh lebih pintar daripada dirinya, saya jauh lebih bisa bergaul daripada dirinya. fisik saya juga lebih baik daripada dirinya, hingga akhirnya komen-komen tersebut membuat saya eneg dan muak pada puncaknya. Saya merasa malu dengan kakak saya. Dan akhirnya saya menjauh dari kakak saya. Begitu jahatnya saya. Terlebih masa itu adalah masa-masa remaja di mana komentar teman-teman dan pergaulan lebih saya dengarkan dibandingkan kata hati saya sendiri.

Karena saya malu akhirnya saya menjauh dari kakak saya. Saya tidak mau berbicara banyak-banyak dengannya di sekolah. Saya tidak mau terlihat berjalan bersamanya di sekolah. Apalagi sewaktu SMP kakak saya dikucilkan oleh pergaulannya karena ia dinilai aneh. Bahkan teman-teman dekat saya pun ikut menjelek-jelekkan kakak saya. Pada saat itu saya ingin sekali membelanya namun apa daya, saat itu menurut saya pergaulan, eksistensi, dan komentar orang-orang lebih penting daripada kata hati saya sendiri, Dulu saya takut kalau saya membela kakak saya maka saya akan ikut dikucilkan. Saya tahu betapa jahatnya saya dulu. Sejujurnya saya ingin berteriak di depan muka mereka,
"BAGAIMANA BISA KAKAK SAYA BERBICARA NORMAL SEPERTI ORANG-ORANG BERGAUL PADA UMUMNYA KETIKA KAKAK SAYA "DIANUGERAHI" IQ ATAU KECERDASAN DI BAWAH RATA-RATA, DI BAWAH KECERDASAN KALIAN PADA UMUMNYA??!" Tetapi tetap saja pada akhirnya saya hanya diam saja. Begitu pun ketika orang-orang menanyakan kenapa kakak saya begitu dan begini, saya tidak tahu harus menjawab apa hingga akhirnya saya hanya berkata, 'tau ah emang gue pikirin'.
Saya begitu jahat. Pergaulan remaja di mana pengakuan eksistensi dari sekitar dapat membuat orang-orang menjadi sangat jahat. Dan saya sangat menyesalinya. Luka itu belum kering. Luka itu masih basah dan mungkin akan tetap basah.

Hingga akhirnya kami mulai beranjak dewasa, dan saya mulai mengerti bahwa saya yang seharusnya mengerti kakak saya, bukan ia yang mengerti saya.

Sejujurnya saya pun sedih ketika SMP terdapat pembagian kelas berdasarkan peringkat nilai, saya masuk kelas A selama 2 bulan berturut-turut hingga beberapa minggu sebelum kelulusan, sedangkan ia masuk kelas D selama 2 bulan berturut-turut hingga beberapa minggu sebelum kelulusan.
Sejujurnya saya sedih ketika saya sudah selesai mengerjakan semua soal dan ia masih harus berusaha berkutat dengan soal-soal itu hingga 3 jam kemudian. Namun ia tak pernah menyerah.
Sejujurnya saya merasa sedih ketika ia salah menangkap apa yang orang lain maksud sehingga ia merasa marah dan sedih. Hal itu hanya karena ia mempunyai kecerdasan di bawah normal...

Ketika saya dengan sombongnya mempunyai mimpi-mimpi yang besar karena dari dulu saya selalu mendapat peringkat di sekolah, ia dengan lugunya mengatakan bahwa ia ingin menjadi guru agama...
Saat itu saya menjadi tidak begitu serius belajar karena dari dulu sesuatu yang saya inginkan datang dengan mudahnya, Saya dapat memahami soal fisika dan matematika yang susah karena saya dapat dengan mudah menguasai rumus dasarnya, penjabarannya dapat dilakukan belakangan kalau menguasai rumus dasarnya. Hingga akhirnya saya kembali ke Indonesia, dan semua berubah. Yang saya temui hanya,
Kegagalan. Kegagalan, Kegagalan.

Ketika saya asik nongkrong-nongkrong dengan teman-teman saya, ia bekerja keras... Ketika saya mengantuk dan merasa sudah cukup belajar hari ini, ia masih belajar...
Hingga pada akhirnya ia lah yang melanjutkan bangku kuliah di universitas paling prestigius di Indonesia walau itu hanya D3. Sedangkan saya di sini. Di jurusan yang menurut orang-orang sangat tidak kece dan tidak jelas apa kegunaannya (the funny thing is, it is only in Indonesian's mind).

Sekali lagi, selamat ya mbak. Finally I can easily call you 'mbak' after all this time yang manggil namanya saja saya gak mau.
Maaf. I don't know how to say sorry since I have been a bad sister for you...
But you should know, although you may not know this since I never say it, that... I love you... I love you... I love you like twins share the same soul, same world, and same dream. And the fact that I actually pray for your happiness dan semoga jalan kamu selalu diberikan kemudahan...

P.S. Thankfully she doesn't know that I have a blog and write this kind of writing. Gengsi :)




Wednesday, 18 February 2015

Pertanyaannya

Sabar, ia masih menunggu.
Berdiri di batas
Ambang antara keyakinan dan keraguan
Yang dipisahkan oleh jarak tipis seperti rambut yang semakin hari semakin tipis karena udara tempat ia kuliah yang tidak sehat sama sekali dan kepenatan dalam menuntut ilmu
Ia ingin maju, melangkah sedikit saja
Lalu ia kembali mundur ke titik nol.
Hey, apa yang kamu tunggu. Semua orang bertanya.
Selesai ini lalu kamu mau apa?
Menjalankan standar kehidupan manusia?
Memenuhi kebutuhan kehidupan?
Mengejar mimpi yang tampaknya terdengar bullshit di dunia yang semakin kapitalis ini?
Menjadi orang berkelas menenteng fendi sambil meneguk sedikit martini?
Di kafe yang temaram dan penuh dengan orang-orang yang bersusah payah mencari uang hanya untuk sebatas keesklusifan
Berfoto dengan senyum dikulum tidak terlihat gigi
Dan memasang outfit of the day dalam media sosialnya
Sudahlah, tidur lebih nyaman, alam lebih indah, orang-orang yang apa adanya lebih menyenangkan hati.
Tapi bukan dalam malam-malam resah tanpa memikirkan judul itu, dosen itu, sidang itu.
Dalam rumah dan kehangatannya.