Dulu, sewaktu sekolah, saya
paling sebel sama pelajaran Sejarah. Soalnya setiap waktu pelajaran tersebut
saya harus membuat rangkuman yang ditulis tangan dan tentunya rangkuman
tersebut gak sedikit. Sampai 4 lembar malah kadang saya merangkum. Sebel, kan
pegel. Belum lagi ujiannya yang super sulit. Bayangin aja foto para pahlawan
yang saya aja takut liatnya dan sudah buram juga harus dihapalkan. Lalu ketika
ujian dimulai, saya harus menebak foto siapakah itu? Belum lagi memori saya yang
gak bagus buat hafalan dipaksa harus mengingat tanggal-tanggal kejadian
bersejarah beserta nama-nama orang yang gak mudah untuk diingat.
Tetapi semenjak saya masuk
jurusan Sastra, justru sejarah menjadi dekat sekali dengan saya. Ibaratnya
tubuh, nadi dari Sastra adalah peristiwa sejarah. Sastra itu dibentuk dari
potongan-potongan narasi, dan narasi itu disusun oleh waktu, dan waktu adalah
Sejarah. Saya memang anak Sastra Inggris sehingga karya yang saya baca malah
berhubungan dengan sejarah-sejarah di negara-negara berbahasa Inggris, mulai
dari Inggris, Amerika, hingga Afrika Selatan. Seperti peristiwa sejarah saat
jaman kolonialisme Inggris ke negara-negara Asia dan Afrika dalam Shooting an Elephant yang mengungkapkan
kejamnya penjajahan di Burma, atau Civil
Peace yang menggambarkan sedihnya kehilangan keluarga karena perang di
Nigeria. Ada juga peristiwa Civil War
di Amerika yang melahirkan kesenjangan karya-karya sastra yang sangat berbeda
di Amerika bagian utara yang modern dan Amerika bagian selatan yang ‘kumuh’
hingga akhirnya lahirlah pidato luar biasa yang dikenang sejarah dari Martin
Luther King, Jr. Seperti itulah karya-karya sastra berkembang karena ditempa
oleh pahitnya masa-masa kelam dari sejarah hingga akhirnya muncul karya Sastra
kontemporer dan lahirnya kebebasan yang menciptakan berbagai jenis penulis
mulai dari penulis berkulit hitam, feminis, hingga saat ini maraknya penulis
Sci-fi, dan metropop.
Di Indonesia, karya Sastra
berkembang tidak kalah hebatnya. Walau memang tampak tenggelam dan tidak
terderngar karena masih banyak orang Indonesia yang malas baca (bukan illiterate) namun ia terus lahir.
Belakangan ini, saya mulai membaca karya-karya Sastra Indonesia lama mulai dari
angkatan Balai Pustaka sampai angkatan 70. Awalnya saya membaca karena tuntutan
yaitu kajian Comparative Literature
(Sastra Bandingan) pada suatu mata kuliah. Lalu saya akhirnya mencoba membaca
karya-karya lama itu untuk pertamakalinya karena guru Bahasa Indonesia saya sewaktu
sekolah tidak pernah menyebutkan karya-karya tersebut sehingga saya buta akan
kesusasteraan lama Indonesia. Ternyata saya benar-benar dapat dibuat merinding
gara-gara baca karya-karya tersebut. Setiap karya Sastra tersebut mempunyai
pesan sendiri, apalagi karya Sastra tahun 60-80 yang seperti menggebrak dan
melakukan pertentangan dari karya Sastra sebelumnya, yang banyak dikontrol oleh
kolonial, pemerintah, terutama (mungkin) gara-gara gerakan 30 September. Tetapi
walaupun berlatar belakang sejarah, tetep aja saya suka novel-novel romansa,
makanya saya suka Amba dari Laksmi Pamuntjak, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad
Tohari, Umar Kayam, Leila S. Chudori dan banyak lagi. Dari membaca karya-karya
kesusastraan lama tersebut, saya belajar banyak mengenai Indonesia. Indonesia
dalam Sastra Indonesia ternyata tidak hanya menyangkut masalah geografi saja
melainkan juga politik yang sangat kejam dan berlika-liku.
Lalu setelah itu, saya menyadari
bahwa sebenernya bukan hal yang sangat buruk kalau saya masuk jurusan Sastra.
Saya gak akan pernah mau menyepelekan Sastra lagi. Sastra itu menyuarakan apa
yang tidak bersuara. Buktinya, penulis-penulis angkatan 45 hingga
tahun 80 banyak yang masuk penjara karena tulisannya. Sastra menyajikan apa
yang orang tidak tahu dari permukaan. Ketika berita banyak dikontrol oleh
politik dan kepentingan sana-sini, Sastra bersuara, Seperti yang dikatakan oleh Mas Seno Gumira, “Ketika
Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.” Memang sih, sekarang kita hidup di
jaman yang sudah serba enak, terus akhirnya jadi banyak yang mempertanyakan
ngapain juga repot-repot mikirin masa lalu. Membaca karya sastra pun jadi kelihatan gak penting lagi karena mereka sudah bisa mendapatkan status sosial, cukup dengan buku pelajarannya. Tapi justru itu yang serem... Menciptakan
orang pintar jaman sekarang menurut saya mudah. Mungkin sama mudahnya dengan memproduksi Indomie di pabrik. Saat ini juga sudah banyak tempat les
bertebaran di mana-mana, belum lagi dukungan internet dan teknologi yang
memadai. Tetapi ya itu mereka akhirnya (mungkin) cuma jadi kayak
robot. Hidup untuk bekerja, bekerja untuk punya gadget paling baru, punya mobil minimal dua,
sudah deh selesai. Akhirnya saking ketatnya persaingan orang-orang pintar
tersebut, mereka jadi menghalalkan segala cara untuk memuaskan dirinya dan
keluarganya sendiri. Lama-lama mungkin Jakarta udah jadi kayak New York;
senjata dilegalkan, kriminalitas di mana-mana. Gak tau ding, saya gak mau negative
thinking, ah.
Makanya itu menurut saya untuk menyeimbangkan, orang-orang pintar tersebut harus mau membaca (bukan cuma buku pelajaran) karena Sastra dapat membuat mereka kembali membumi. Sastra dapat membuat mereka melihat dari banyak sudut pandang. Sastra juga terkadang mempunyai ideologi implisit yang ingin disampaikan penulis yang membuat pembacanya menjadi "peka". Orang yang suka membaca jadi punya pikiran yang lebih terbuka untuk menerima suatu hal yang baru tapi tentu tidak langsung ditelan mentah-mentah. Orang yang suka membaca juga tentu akhirnya menjadi kritis karena pikiran yang terbuka tersebut. Semoga pada akhirnya Sejarah tersebut tidak akan terulang kembali, atau lebih seramnya malah terciptanya Sejarah baru tentang degradasi ‘nilai’ manusia.
Makanya itu menurut saya untuk menyeimbangkan, orang-orang pintar tersebut harus mau membaca (bukan cuma buku pelajaran) karena Sastra dapat membuat mereka kembali membumi. Sastra dapat membuat mereka melihat dari banyak sudut pandang. Sastra juga terkadang mempunyai ideologi implisit yang ingin disampaikan penulis yang membuat pembacanya menjadi "peka". Orang yang suka membaca jadi punya pikiran yang lebih terbuka untuk menerima suatu hal yang baru tapi tentu tidak langsung ditelan mentah-mentah. Orang yang suka membaca juga tentu akhirnya menjadi kritis karena pikiran yang terbuka tersebut. Semoga pada akhirnya Sejarah tersebut tidak akan terulang kembali, atau lebih seramnya malah terciptanya Sejarah baru tentang degradasi ‘nilai’ manusia.
:(

No comments:
Post a Comment