PEF: Padjadjaran Education Festival.
Sebuah acara yang diselenggarakan untuk murid SMA sederajat se-Indonesia dan
bertujuan untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka tentang Unpad.
--
Minggu
kemarin, tanggal 8 November 2015, acara PEF secara resmi selesai, acara yang
sudah kami persiapkan bersama sejak tiga bahkan empat bulan yang lalu. Sedih,
senang, haru, lelah, merasa kangen, dan sebagainya bercampur aduk jadi satu.
Klise, perasaan umumnya yang dirasakan oleh panitia ketika acara bubar. Tapi
kali ini, aku mau menceritakan perbedaannya.
Niat
saya untuk menjadi panitia di acara ini adalah mengisi kekosongan semester 7.
Mengisi kekosongan. Iseng banget. Ya, karena seharusnya saya sudah SUJS dari
semester kemarin dan seharusnya sudah bisa lulus paling lambat, maksimal, bulan
Desember ini (udah diceritain di post sebelumnya). Seharusnya. Tapi ya sudah. It is okay. Pasti selalu ada hikmahnya. J
Lalu
akhirnya saya mendaftarkan diri jadi panitia. Karena pejabat-pejabat tinggi di
PEF adalah lingkaran teman-teman saya semua; mulai dari PO, Kabid, Koor, maka
dengan mudah saya masuk PEF. Wawancara hanya formalitas belaka. Bahkan tadinya
saya ditawari jadi Koor dengan mudahnya oleh Kabid yang teman dekat saya
sendiri. Tapi karena gak pernah punya pengalaman di PEF sebelumnya, akhirnya
saya memutuskan untuk jadi staff saja. Dan dimulailah pengalaman saya menjadi
staff divisi Dokumentasi, Bidang Kreatif di PEF ini.
Awalnya,
divisi ini susah sekali kumpul. Wajar sih, karena orang-orang yang memilih
dokumentasi pasti orang-orang yang ingin kerja gampang, cepat, tapi bisa masuk
ke dalam acara besar seperti PEF ini. Itu stereotip saya aja sih karena
ternyata mereka memang orang-orang yang sibuk namun jago sekali dalam bidang
fotografi dan publikasi. Tugas divisi kami adalah membuat desain ID Card,
Sertifikat, membuat video-video persuasif tentang PEF, dan mendokumentasikan
setiap rangkaian acara mulai dari roadshow hingga hari H. Alhamdulillah semua sudah
kami selesaikan.
Alhamdulillah,
saya punya teman-teman divisi yang kompak dan menyenangkan. Kalau malas, malas
bersama. Kalau gak mau ikut rapat, gak ikut bersama. Bekerja dengan mereka pun
jadi menyenangkan dan tidak dibawa beban. Kami sering kena eval karena “keliatan”
gabut sih. Tapi gabut karena memang acaranya telat parah sampai 2 jam belum
dimulai. Terus apa yang harus didokumentasikan coba? Sialnya, saya dan koor
sebagai “tetua” lagi gak ada di sana waktu evaluasi sehingga tidak ada yang bisa
membela divisi kami. Kasian adik-adikku tersayang kena eval sama PO, huhu.
Dan, sebagai
bagian dari yang turut menyelenggarakan acara sebesar ini, tentu banyak
pelajaran yang dapat saya ambil.
Pertama,
ternyata memang susah bekerja dalam lingkaran teman sendiri. Bawaannya menjadi
lebih under-pressure loh malahan.
Gimana ya, justru karena dekat jadi segala sesuatu malah dilakukan berdasarkan
ego pribadi, bukan profesionalisme. Sebagai contoh, Kabid saya lebih sering
mengamanahkan saya untuk suatu hal, padahal ada yang lebih bisa bekerja dalam
bidang tersebut daripada saya. Atau seperti dengan mudahnya menunjuk teman saya
yang lain karena mereka dekat untuk menjadi LO si artis besar sehingga menuai
beberapa ‘keirian’ dari stafnya yang lain. Atau dari saya sendiri jadi lebih ‘gak
enak’ untuk protes karena gimana ya… Kan itu teman saya sendiri. Mulai dari hal
sepele kayak tata bahasa yang kacau parah, Inggris-Indonesia yang campur sari
sok asik, untuk publikasi. Atau dari telatnya acara waktu H-1, sampai 2 jam, apalagi
saat itu banyak anak-anak SMA yang mulai gak betah menunggu dan minta izin sama
staff kayak saya yang gak ngerti apa-apa untuk keluar ruangan. Tapi saya gak
tega buat protes karena muka teman saya itu capek banget. Saya jadi kasian…
Tapi
ya namanya kepercayaan mungkin memang tidak bisa dengan mudahnya dibangun buat
orang baru. Mungkin niat teman-teman saya dalam lingkaran pejabat tinggi PEF
itu ya karena kepercayaan dan ikatan yang tidak perlu dibangun lagi.
Kedua,
nah ini penting sih menurut gue. JADI ORANG JANGAN BAPER-BAPER AMAT. Waktu saya
kerja di lingkup yang lebih kecil, hal itu jarang terjadi karena kompleksitas
dan kecapekannya yang masih biasa aja. Tapi giliran kerja di acara yang besar
kayak gini… Itu jadi penting banget pemirsah! Jujur, kerja dibawa beban itu
capeknya malah jadi berkali-kali lipat. Makanya saya menghindari banget buat kumpul
sama orang yang ngeluh dan nangis terus, pas acara kayak gini. Memang pernah
terjadi beberapa urgent di bidang saya, dan kabid saya malah baper-in semua hal
itu… Maksudnya, come on, semua pasti
akan selesai dan indah pada waktunya. Slow. Kalem. Karena kalo lo malah panik,
nangis, dan marah-marah, itu gak akan buat masalah itu selesai dan malah nular
ke staff-staff lo. Jujur, saya sedih pisan pas beliau nangis karena doi teman
dekat saya banget. Tapi, saya gak suka ketika staff-staff yang lain jadi pada
ikutan bingung dan resah karena kelakuan beliau yang baperin hal tersebut yang
seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan kalau gak baper.
Tetapi
ya di luar semua itu, acara ini sudah oke banget! Hampir 8.000-an pengunjung yang datang
merasa puas dengan kerja keras kami semua. Alhamdulillaaaaah.
Semua
kendala-kendala yang saya sebutkan tadi menjadi sangat kecil dan tidak
sebanding dengan suksesnya acara ini diselenggarakan.
P.S. Lavvvvv you
divisi ghibah hahaha. Inez dan Lidya teman kreatif bareng dan teman ghibah
bareng juga (
![]() |
| Roadshow to Ciamis. With partner yang sabar dan baik hati, Agung tapi dipanggilnya Nia. |
![]() |
| Nurin - Bunga - Lidya - Shifa - Hida Yehet Minus Vera nich. |
![]() |
| Lidya - Vera - Nurin Still happy dong. |
![]() |
| Nurin - Inez - Lidya Bhinneka Divisi, Bidang Kreatif Tunggal Ika. |
![]() |
| My Lovely Divisi Ghibah xoxo |
| Cowok-cowok penghibur. P.S. Rula gemayy! Hahaha. |
| #np NAIF - Di mana Aku Di sini |






No comments:
Post a Comment