Menulis dan membaca itu adalah hal wajib yang dilakukan oleh mahasiswa Sastra. Dahulu, saya berpikir saya tidak akan pernah punya masalah tentang itu. Toh, kita semua sudah diajarkan dan bisa menulis dan membaca sejak kecil sehingga saya menganggap menulis dan membaca adalah hal yang normal. Sesuatu yang bisa dilakukan semua orang dengan mudahnya.
Setelah masuk sastra, ternyata saya salah. Menulis dan membaca tidak semudah itu.
--
Dari semester pertama hingga saat ini, nilai tulisan saya selalu diam di tempat. Tidak bagus, tapi juga tidak jelek. Ibaratnya dalam skala Pacis, nilai saya selalu B. Diam di angka 7. Dari awal hingga sekarang.
Semester pertama saya masuk kelas menulis di kelas seorang dosen yang luar biasa, Almarhum Pak Rudi Wilson.
Saat itu hampir seluruh kelas mendapatkan nilai jelek, dari skala 0-7. Alhamdulillah, saat itu nilai saya tidak jelek-jelek amat. Karena itu saya merasa puas.
Namun saya menyadari, di saat saya merasa puas dengan nilai yang dahulu saya anggap tinggi, teman-teman saya yang lain mulai menunjukkan perkembangannya sehingga pada akhirnya mereka mendapatkan nilai lebih bagus dari saya.
Nilai saya stuck di angka itu saja.
Saya tidak pasif, saya berkali-kali bertanya kepada beliau mengapa begini dan begitu. Sampai beliau mungkin bosan mendengar pertanyaan-pertanyaan saya, mulai dari yang bodoh hingga sepele haha. Namun nilai saya selalu seperti itu, tidak pernah naik dan tidak pernah turun. Begitupun dengan catatan akhir yang beliau berikan di tulisan saya,
"Jalan pikiranmu kacau". Selalu seperti itu.
Setelah semester satu berlalu, saya masih tidak pernah mengerti arti dari "Jalan pikiranmu kacau" itu. Tapi saya akan terus belajar dan mencari tahu.
Memasuki semester dua, lagi-lagi seperti itu. Diam di angka itu.
Dan saat itu saya berpikir, "Apakah saya tidak pernah belajar?"
Masuk semester tiga, nilai saya di kelas menulis bagus. Tapi saya sadar, selain karena dosennya yang berhati malaikat hahaha, tulisan di semester tiga adalah business writing atau writing for professional purposes. Karena business writing, maka tulisan-tulisan tersebut sudah diberi aturan dan kerangka sehingga kami hanya tinggal mengikutinya saja. Tidak seperti tulisan-tulisan di semester sebelumnya di mana kita dibiarkan bebas dalam pikiran kita.
Setelah masuk semester empat, saya mendapatkan dosen keren lagi, Bu Atwin, seorang tokoh feminisme. Semua dosen sastra itu pikirannya keren! Luaaaas sekali, sehingga beliau-beliau tersebut dapat dengan mudahnya mengaitkan dan menyusun intertextuality dalam sebuah tulisan.
Sebenarnya mata kuliah beliau bukanlah mata kuliah menulis, tetapi hampir semua mata kuliah anak Sastra membutuhkan paper dan essay sebagai tugas akhirnya.
Pada saat UTS, lagi-lagi, di mana teman-teman saya mendapatkan nilai yang bagus, saya stuck di angka segitu-gitu lagi. Dan komentar dalam esai saya,
"What theory is this? Are you making your own theory?"
"Elaborate it more patiently"
Aaaah sejujurnya saya jadi malu sendiri. I am not making any theories, Bu. Saya itu orangnya memang suka ngaco, ngasal, dan nyeplos kalo ngomong dan bodohnya kebawa-bawa sampai tulisan hiks...
And in the eeeend, nilai akhir saya mungkin bisa dibilang yang rendah di antara teman-teman saya yang keren pisan itu. Walaupun alhamdulillah gak sampe ngulang sih. Tapi yaaa saya tidak akan pernah berhenti belajar kok. Saya bakal inget terus komentar komentar itu dan berusaha untuk memperbaiki jalan pikiran yang kacau ini hahaha.
Tapi berbeda sama Creative Writing!! Satu-satunya kelas menulis yang saya sukai ya hanya itu haha. Karena jalan pikiran saya yang kacau ini justru malah sangat membantu. Imajinasi setiap mahasiswanya dibiarkan bebas. Membayangkan sesuatu, kemudian dituangkannya menjadi cerita pendek, puisi, film, lagu, atau drama radio.
Dan satu-satunya paper yang dihargai oleh dosen adalah paper di mata kuliah Survey of American Literature. This is my first time I got A for my paper hahaha. Padahal semester sebelumnya saya juga mengambil dosen yang sama di mata kuliah American History, namun tetap saja papernya tidak mendapat nilai yang memuaskan.
I wrote,
"Makna Kebebasan pada Kata "Bird" dalam Puisi Maya Angelou dan Jack Spicer"
Pada akhirnya saya belajar bahwa sampai kapanpun saya akan terus belajar. Semoga semester-semester selanjutnya saya bisa lebih banyak belajar! Hihi.
No comments:
Post a Comment