Thursday, 11 June 2015

For My Dearest Sister

I am extremely happy to get the news today. Kakak saya akhirnya lulus, dengan nilai A. Selamat ya.

I am so proud seeing your achievements this far.

Terharu. Bangga. Bahkan kadang gak percaya juga. But you already made this far. Congrats.

Saya tahu bagaimana perjuangan dia. We were born not too far. Kami berbeda 1 tahun pas. Kakak saya lahir pada bulan Desember 1993 dan saya lahir Desember 1994. Kakak saya lahir dengan ukuran katup jantung kiri dan kanan yang berbeda. Pada usia beberapa bulan, ia harus menjalani operasi berat dan mencakup bagian dalam karena kelainan ukuran katup jantung tersebut membuat katup tersebut bocor sehingga darah kotor dan bersih tercampur. Ia tidak bisa makan, bahkan berguling ke kiri dan kanan saja membuatnya tidak bisa bernafas. Bapak saya adalah pegawai baru di sebuah BUMN sehingga gajinya tidak sebegitu besar. Alhamdulillah, biaya operasi kakak saya itu dibiayai oleh perusahaan tempat bapak saya bekerja. Akhirnya kakak saya yang masih terhitung bayi tersebut menjalani operasi sangat dalam, di jantungnya. Alhamdulillah, Allah memang Maha Berkuasa atas segalanya, bayi yang biasanya tidak kuat untuk dioperasi besar seperti itu, kakak saya bertahan. Operasinya berhasil. Walau selama 3 bulan berikutnya ia masih harus tinggal di rumah sakit, dan saya jadi diasuh oleh kakek dan nenek saya.

Saat itu saya percaya bahwa dia adalah orang yang kuat.

Kami berdua tumbuh bersama-sama. Ternyata bukan hanya masalah jantung saja yang dialami oleh kakak saya waktu itu, ia memang masih harus kontrol jantungnya sampai 6 tahun kemudian, tetapi ternyata kemampuan motoriknya juga terganggu. Saya dapat berbicara dan berjalan jauh lebih cepat daripada kakak saya. Saat saya sudah bisa berjalan dan memanggil bapak dan ibu saya, kakak saya masih merangkak. Walau begitu ibu saya bercerita, bahwa ia seringkali berusaha memanggil saya dan mengajak saya berbicara dengan berkata, 'ndek...' (adek). Akhirnya pada usia 3 tahun baru kakak saya bisa berjalan, di mana anak-anak normal lainnya sudah dapat berjalan ketika menginjak usia 1 atau 1.5 tahun. Ia dapat berbicara walau banyak cadel di sana-sini dalam setiap katanya. Namun ia tetap berusaha mengajak saya berbicara.

Saat itu saya percaya bahwa dia sangat menyayangi saya.

Alhamdulillah setelah terapi beberapa kali kakak saya dapat berbicara normal, tidak tampak kecadelan dan cacat kata di sana-sini lagi. Kami berdua mulai masuk sekolah bersama. Karena keterlambatan kakak saya itu, akhirnya kami berdua masuk di angkatan yang sama, Kakak saya menunda sekolah satu tahun. Saat itulah ibu saya mulai memperlakukan kami berdua seperti anak kembar. Kami dibelikan baju serupa, tas serupa, tempat bekal serupa, dan hal-hal serupa lainnya. Awalnya saya tidak mempermasalahkan hal tersebut hingga saya mulai beranjak besar. Saya ingin tas lainnya, sepatu lainnya, yang tidak serupa dengan milik kakak saya. Tetapi kakak saya selalu mengikuti saya hingga seringkali kami bertengkar. Padahal harusnya saya tahu, ia mengikuti saya karena ia menyayangi saya.

Saat kami mulai masuk sekolah dasar, kami duduk di bangku sekolah yang sama hingga SMA. Saat itu banyak yang membandingkan saya dan kakak saya. Mereka bilang kami berbeda. Saya jauh lebih pintar daripada dirinya, saya jauh lebih bisa bergaul daripada dirinya. fisik saya juga lebih baik daripada dirinya, hingga akhirnya komen-komen tersebut membuat saya eneg dan muak pada puncaknya. Saya merasa malu dengan kakak saya. Dan akhirnya saya menjauh dari kakak saya. Begitu jahatnya saya. Terlebih masa itu adalah masa-masa remaja di mana komentar teman-teman dan pergaulan lebih saya dengarkan dibandingkan kata hati saya sendiri.

Karena saya malu akhirnya saya menjauh dari kakak saya. Saya tidak mau berbicara banyak-banyak dengannya di sekolah. Saya tidak mau terlihat berjalan bersamanya di sekolah. Apalagi sewaktu SMP kakak saya dikucilkan oleh pergaulannya karena ia dinilai aneh. Bahkan teman-teman dekat saya pun ikut menjelek-jelekkan kakak saya. Pada saat itu saya ingin sekali membelanya namun apa daya, saat itu menurut saya pergaulan, eksistensi, dan komentar orang-orang lebih penting daripada kata hati saya sendiri, Dulu saya takut kalau saya membela kakak saya maka saya akan ikut dikucilkan. Saya tahu betapa jahatnya saya dulu. Sejujurnya saya ingin berteriak di depan muka mereka,
"BAGAIMANA BISA KAKAK SAYA BERBICARA NORMAL SEPERTI ORANG-ORANG BERGAUL PADA UMUMNYA KETIKA KAKAK SAYA "DIANUGERAHI" IQ ATAU KECERDASAN DI BAWAH RATA-RATA, DI BAWAH KECERDASAN KALIAN PADA UMUMNYA??!" Tetapi tetap saja pada akhirnya saya hanya diam saja. Begitu pun ketika orang-orang menanyakan kenapa kakak saya begitu dan begini, saya tidak tahu harus menjawab apa hingga akhirnya saya hanya berkata, 'tau ah emang gue pikirin'.
Saya begitu jahat. Pergaulan remaja di mana pengakuan eksistensi dari sekitar dapat membuat orang-orang menjadi sangat jahat. Dan saya sangat menyesalinya. Luka itu belum kering. Luka itu masih basah dan mungkin akan tetap basah.

Hingga akhirnya kami mulai beranjak dewasa, dan saya mulai mengerti bahwa saya yang seharusnya mengerti kakak saya, bukan ia yang mengerti saya.

Sejujurnya saya pun sedih ketika SMP terdapat pembagian kelas berdasarkan peringkat nilai, saya masuk kelas A selama 2 bulan berturut-turut hingga beberapa minggu sebelum kelulusan, sedangkan ia masuk kelas D selama 2 bulan berturut-turut hingga beberapa minggu sebelum kelulusan.
Sejujurnya saya sedih ketika saya sudah selesai mengerjakan semua soal dan ia masih harus berusaha berkutat dengan soal-soal itu hingga 3 jam kemudian. Namun ia tak pernah menyerah.
Sejujurnya saya merasa sedih ketika ia salah menangkap apa yang orang lain maksud sehingga ia merasa marah dan sedih. Hal itu hanya karena ia mempunyai kecerdasan di bawah normal...

Ketika saya dengan sombongnya mempunyai mimpi-mimpi yang besar karena dari dulu saya selalu mendapat peringkat di sekolah, ia dengan lugunya mengatakan bahwa ia ingin menjadi guru agama...
Saat itu saya menjadi tidak begitu serius belajar karena dari dulu sesuatu yang saya inginkan datang dengan mudahnya, Saya dapat memahami soal fisika dan matematika yang susah karena saya dapat dengan mudah menguasai rumus dasarnya, penjabarannya dapat dilakukan belakangan kalau menguasai rumus dasarnya. Hingga akhirnya saya kembali ke Indonesia, dan semua berubah. Yang saya temui hanya,
Kegagalan. Kegagalan, Kegagalan.

Ketika saya asik nongkrong-nongkrong dengan teman-teman saya, ia bekerja keras... Ketika saya mengantuk dan merasa sudah cukup belajar hari ini, ia masih belajar...
Hingga pada akhirnya ia lah yang melanjutkan bangku kuliah di universitas paling prestigius di Indonesia walau itu hanya D3. Sedangkan saya di sini. Di jurusan yang menurut orang-orang sangat tidak kece dan tidak jelas apa kegunaannya (the funny thing is, it is only in Indonesian's mind).

Sekali lagi, selamat ya mbak. Finally I can easily call you 'mbak' after all this time yang manggil namanya saja saya gak mau.
Maaf. I don't know how to say sorry since I have been a bad sister for you...
But you should know, although you may not know this since I never say it, that... I love you... I love you... I love you like twins share the same soul, same world, and same dream. And the fact that I actually pray for your happiness dan semoga jalan kamu selalu diberikan kemudahan...

P.S. Thankfully she doesn't know that I have a blog and write this kind of writing. Gengsi :)




1 comment:

  1. Terharuu bacanya,, dibikin cerpen bgs nih mba :-) prasaan bru kmrn liat kalian berdua sprti dfoto itu, skrg tau tau ud mau pd lulus kuliah dan pinter nulis :-) sukses ya mba Nurin

    ReplyDelete