Dari Hatiku Selembar Daun hingga
Hujan Bulan Juni, aku mengenang karya-karya beliau sebagai suatu
kesederhanaan. Suatu kesederhanaan yang nilainya terasa sangat mewah. Beliau mampu
mengumpamakan sesuatu yang vital dan penuh makna, dengan hal-hal yang sederhana.
Hal itu menyadarkanku bahwa hal-hal yang seringkali luput dari perhatian kita
adalah hal yang justru sebenarnya banyak mengajarkan.
Hujan Bulan Juni, di bulan kemarau
yang sebetulnya sulit untuk mendatangkan hujan, diumpamakan sebagai upaya mencintai
yang paling tabah. Yang merahasiakan rindu, yang menghapus keraguan, dan yang
membiarkan yang tak
terucapkan. Dan kemudian tetap tabah meski dilakukannya hal-hal yang paling
sulit dari mencintai.
Hatiku Selembar Daun, perumpamaan
yang begitu rapuh. Daun mudah tersapu, baik oleh angin maupun kesengajaan. Begitu
mudahnya terlewatkan. Kerapuhan tersebut mampu membuatku berempati dengan hati
yang mendamba kesempatan untuk menetap, untuk memandang hal yang selama
ini luput ia perhatikan. Sebelum akhirnya melewatkannya seperti selembar daun.
Di Restoran, memesan
menu makanan diumpamakan sebagai hal yang paling sulit. Saking sulitnya
hingga akhirnya hampir menyerah karena memesan rasa sakit yang tak putus dan
nyaring lengkingnya, setelah sebelumnya berupaya memesan ilalang panjang dan
bunga rumput, atau batu di tengah sungai terjal yang deras. Sementara hanya ia sendiri yang berusaha. Melalui ilalang dan bunga rumput yang merupakan tumbuhan liar dan terabaikan, atau batu di sungai terjal yang pada akhirnya terkikis, terdapat upaya cinta sendiri untuk menyuburkan dan melumatkan cinta yang gersang dan keras.
Belum lagi Sajak Kecil tentang
Cinta, yang mengumpamakan mencintai dengan hal-hal yang melekat di
semesta ini: air, angin, api, cakrawala. “Mencintai api harus menjadi jilat…”; “Mencintai
cakrawala harus menebas jarak…” untuk pada akhirnya “MencintaiMu(mu) harus
menjadi aku.” Mu, yang bagian buruknya seperti terjal pada gunung, ricik pada
air, menjadi bagian yang sewajarnya dari Aku.
Dan masih banyak lagi kata yang mampu
mengobati waktu yang sepi dan sendiri.
Meski menurutku, sajak terbaik
Eyang Sapardi adalah Dalam Doaku. Ada harapan yang melibatkan sisi religiositas
dalam mencintai seseorang. Ada lima waktu yang diumpamakan sebagai cinta yang tidak
akan pernah selesai. Cinta yang mendoakan keselamatan yang dicintai. “Dalam doaku subuh
ini...”; “Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala…”; “Dalam doaku sore
ini…”; “Magrib ini…,” hingga “Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya…” Suatu
umpama mencintai seseorang hingga selalu melibatkannya dalam lima waktu penting
dalam hidupnya. Mendoakan
memang level mencintai yang paling atas.
Meskipun, yang ditulis oleh Eyang
Sapardi bukan hanya tentang cinta. Ada juga perjuangan
buruh, ketuhanan, atau konsep liyan yang sering bergulat dalam identitas diri.
Namun, yang paling bisa direlasikan oleh setiap orang memang cinta, bukan?
Suatu hal universal yang paling mudah diterima. Cinta adalah hal fundamental
yang dapat menjadi suatu penghiburan, pengharapan, dan lainnya. Kesederhanaan kata
yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono memang mudah menimbulkan cinta pada setiap
orang.
Selamat jalan Eyang Sapardi. Dalam
sajak-sajakmu, dalam kesederhanaanmu, kau tidak pernah letih-letihnya kami
cari.
![]() |
| Bonus foto waktu pertama kalinya ketemu Eyang Sapardi :) |
#SapardiDjokoDamono


No comments:
Post a Comment