Sunday, 26 July 2020

Mengenang Eyang Sapardi


Dari Hatiku Selembar Daun hingga Hujan Bulan Juni, aku mengenang karya-karya beliau sebagai suatu kesederhanaan. Suatu kesederhanaan yang nilainya terasa sangat mewah. Beliau mampu mengumpamakan sesuatu yang vital dan penuh makna, dengan hal-hal yang sederhana. Hal itu menyadarkanku bahwa hal-hal yang seringkali luput dari perhatian kita adalah hal yang justru sebenarnya banyak mengajarkan.

Hujan Bulan Juni, di bulan kemarau yang sebetulnya sulit untuk mendatangkan hujan, diumpamakan sebagai upaya mencintai yang paling tabah. Yang merahasiakan rindu, yang menghapus keraguan, dan yang membiarkan yang tak terucapkan. Dan kemudian tetap tabah meski dilakukannya hal-hal yang paling sulit dari mencintai.

Hatiku Selembar Daun, perumpamaan yang begitu rapuh. Daun mudah tersapu, baik oleh angin maupun kesengajaan. Begitu mudahnya terlewatkan. Kerapuhan tersebut mampu membuatku berempati dengan hati yang mendamba kesempatan untuk menetap, untuk memandang hal yang selama ini luput ia perhatikan. Sebelum akhirnya melewatkannya seperti selembar daun.  

Di Restoran, memesan menu makanan diumpamakan sebagai hal yang paling sulit. Saking sulitnya hingga akhirnya hampir menyerah karena memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, setelah sebelumnya berupaya memesan ilalang panjang dan bunga rumput, atau batu di tengah sungai terjal yang deras. Sementara hanya ia sendiri yang berusaha. Melalui ilalang dan bunga rumput yang merupakan tumbuhan liar dan terabaikan, atau batu di sungai terjal yang pada akhirnya terkikis, terdapat upaya cinta sendiri untuk menyuburkan dan melumatkan cinta yang gersang dan keras.

Belum lagi Sajak Kecil tentang Cinta, yang mengumpamakan mencintai dengan hal-hal yang melekat di semesta ini: air, angin, api, cakrawala. “Mencintai api harus menjadi jilat…”; “Mencintai cakrawala harus menebas jarak…” untuk pada akhirnya “MencintaiMu(mu) harus menjadi aku.” Mu, yang bagian buruknya seperti terjal pada gunung, ricik pada air, menjadi bagian yang sewajarnya dari Aku.

Dan masih banyak lagi kata yang mampu mengobati waktu yang sepi dan sendiri.

Meski menurutku, sajak terbaik Eyang Sapardi adalah Dalam Doaku. Ada harapan yang melibatkan sisi religiositas dalam mencintai seseorang. Ada lima waktu yang diumpamakan sebagai cinta yang tidak akan pernah selesai. Cinta yang mendoakan keselamatan yang dicintai. “Dalam doaku subuh ini...”; “Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala…”; “Dalam doaku sore ini…”; “Magrib ini…,” hingga “Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya…” Suatu umpama mencintai seseorang hingga selalu melibatkannya dalam lima waktu penting dalam hidupnya. Mendoakan memang level mencintai yang paling atas.

Meskipun, yang ditulis oleh Eyang Sapardi bukan hanya tentang cinta. Ada juga perjuangan buruh, ketuhanan, atau konsep liyan yang sering bergulat dalam identitas diri. Namun, yang paling bisa direlasikan oleh setiap orang memang cinta, bukan? Suatu hal universal yang paling mudah diterima. Cinta adalah hal fundamental yang dapat menjadi suatu penghiburan, pengharapan, dan lainnya. Kesederhanaan kata yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono memang mudah menimbulkan cinta pada setiap orang.

Selamat jalan Eyang Sapardi. Dalam sajak-sajakmu, dalam kesederhanaanmu, kau tidak pernah letih-letihnya kami cari.


Bonus foto waktu pertama kalinya ketemu Eyang Sapardi :)
#SapardiDjokoDamono

No comments:

Post a Comment