Nun
di negara di daerah utara sana, pemberitaan riuh dengan suatu kabar mengenai seorang
berkulit hitam yang meninggal setelah ditangkap oleh polisi. Sejak itu, dunia
gempar dengan tagar yang menyuarakan hak hidup orang berkulit hitam, termasuk di
dalamnya menentang rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam. Problematika
rasial terhadap orang kulit hitam mengingatkanku pada kelas American History
dan American Literature ketika berkuliah di Sastra Inggris. Meski seringkali
mengantuk di kelas tersebut, membaca sejarah perbudakan orang berkulit hitam di
Amerika, perlawanan Jim Crow Laws, hingga membaca makna kebebasan dalam karya Maya
Angelou dan Martin Luther King Jr. membuatku menyadari perjuangan panjang orang
kulit hitam untuk diakui sebagai manusia layaknya individu lainnya. Perjuangan
yang banyak mengorbankan kesempatan untuk menikmati hidup seperti bersekolah, beribadah,
bekerja, mencicipi makanan di luar hingga mendapatkan hak untuk memilih. Selain
orang kulit hitam di Amerika yang ditekan untuk tidak mendapat pilihan, banyak
juga orang-orang di luar sana, di belahan bumi lainnya, yang tidak pernah
diberi kesempatan untuk memilih. Pilu rasanya. Hidup tanpa bisa merasa...
Manusia
kerap membawa embel-embel pada dirinya: embel-embel ras, suku, pekerjaan,
jabatan, gender, umur, dan lainnya. Yang pada akhirnya membentuk
identitasnya. Padahal, hakikatnya, manusia tetap bernilai apapun embel-embelnya; apapun pelekatannya. Titik.
Meskipun…
beberapa pelekatan memang didapatkan atas usaha dan jerih payah yang mungkin
tidak bisa dibayangkan sepenuhnya selain oleh yang menjalankan. Oleh
karena itu, apresiasi dapat membuat seseorang merasa dihargai. Apresiasi
terasa seperti sebuah tombol reset yang menenangkan di tengah percakapan yang sibuk
akan tujuan dan pencapaian. Apresiasi terasa seperti jeda. Seseorang akhirnya melihat
diri kita sebagai… kita. Manusia biasa.
Kelak
kita akan dicintai sebagai kita. Seorang individu yang utuh. Yang dihargai
nilai-nilainya. Impiannya. Berserta embel-embel yang selalu kita bawa tersebut.
Aku
jadi ingat. Dahulu, aku berharap sekali memiliki pasangan hidup yang sama-sama
berasal dari keilmuan Sosial – Humaniora. Aku membayangkan bisa selalu bercengkrama
mengenai kemanusiaan, demokrasi, globalisasi, kemajemukan di Indonesia, dan banyak lagi (haha dulu diriku head over heels banget sama tipe-tipe kayak gini... dulu...). Aku membayangkan, rasanya nilai-nilaiku mungkin akan lebih mudah dihargai
jika pasangan hidupku berasal dari latar keilmuan yang sama denganku. Terlebih jika mengingat pertanyaan-pertanyaan yang diulang oleh keluarga besar setiap lebaran mengenai
apa yang ku lakukan dalam hidupku hehe. Mungkin karena keluarga besarku, mulai
dari budhe, pakdhe, oom, tante, hingga sepupu-sepupuku berasal dari keilmuan SAINTEK…
Literally everyone in my family LOL. Tapi kemudian aku sadar, mereka
bertanya karena mereka mungkin ingin memahami. Mereka peduli denganku. Dan yang
ku lakukan pun sebenarnya hanya perlu menjelaskan saja. Aku sadar bahkan orang
tuaku yang selalu mendukungku pun berasal dari latar belakang yang sepenuhnya
berbeda denganku. Both of my parents are engineer. Meski sampai saat ini
mereka selalu iya-iya aja setiap aku berkeluh kesah (gak ngerti deh iya-iya aja
maksudnya ngerti atau gimana wkwk) tetapi mereka selalu mendukungku.
Pelan-pelan mereka belajar memahami. Tidak sepenuhnya memang. Tetapi aku
bersyukur bahwa mereka melihatku sebagai individu yang utuh. Bukan sebagai penerus
ambisi mereka.
Hingga akhirnya aku berpasrah siapapun yang menjadi pasangan hidupku kelak... dengan embel-embel apapun ia bawa... Semoga aku dapat mengerti dirinya sebagai seorang individu yang utuh. Menghargai semua perjalanan, impian dan nilai-nilainya... Dan mencintainya sebagai dirinya.
.
Semoga pun dengan setiap individu di dunia ini.
"Kelak kita akan dicintai
sebagai kita."

No comments:
Post a Comment