Wednesday, 10 June 2020

Kelak, Kita Akan Dicintai sebagai Kita


Nun di negara di daerah utara sana, pemberitaan riuh dengan suatu kabar mengenai seorang berkulit hitam yang meninggal setelah ditangkap oleh polisi. Sejak itu, dunia gempar dengan tagar yang menyuarakan hak hidup orang berkulit hitam, termasuk di dalamnya menentang rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam. Problematika rasial terhadap orang kulit hitam mengingatkanku pada kelas American History dan American Literature ketika berkuliah di Sastra Inggris. Meski seringkali mengantuk di kelas tersebut, membaca sejarah perbudakan orang berkulit hitam di Amerika, perlawanan Jim Crow Laws, hingga membaca makna kebebasan dalam karya Maya Angelou dan Martin Luther King Jr. membuatku menyadari perjuangan panjang orang kulit hitam untuk diakui sebagai manusia layaknya individu lainnya. Perjuangan yang banyak mengorbankan kesempatan untuk menikmati hidup seperti bersekolah, beribadah, bekerja, mencicipi makanan di luar hingga mendapatkan hak untuk memilih. Selain orang kulit hitam di Amerika yang ditekan untuk tidak mendapat pilihan, banyak juga orang-orang di luar sana, di belahan bumi lainnya, yang tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Pilu rasanya. Hidup tanpa bisa merasa...

Manusia kerap membawa embel-embel pada dirinya: embel-embel ras, suku, pekerjaan, jabatan, gender, umur, dan lainnya. Yang pada akhirnya membentuk identitasnya. Padahal, hakikatnya, manusia tetap bernilai apapun embel-embelnya; apapun pelekatannya. Titik.

Meskipun… beberapa pelekatan memang didapatkan atas usaha dan jerih payah yang mungkin tidak bisa dibayangkan sepenuhnya selain oleh yang menjalankan. Oleh karena itu, apresiasi dapat membuat seseorang merasa dihargai. Apresiasi terasa seperti sebuah tombol reset yang menenangkan di tengah percakapan yang sibuk akan tujuan dan pencapaian. Apresiasi terasa seperti jeda. Seseorang akhirnya melihat diri kita sebagai… kita. Manusia biasa.

Kelak kita akan dicintai sebagai kita. Seorang individu yang utuh. Yang dihargai nilai-nilainya. Impiannya. Berserta embel-embel yang selalu kita bawa tersebut.

Aku jadi ingat. Dahulu, aku berharap sekali memiliki pasangan hidup yang sama-sama berasal dari keilmuan Sosial – Humaniora. Aku membayangkan bisa selalu bercengkrama mengenai kemanusiaan, demokrasi, globalisasi, kemajemukan di Indonesia, dan banyak lagi (haha dulu diriku head over heels banget sama tipe-tipe kayak gini... dulu...). Aku membayangkan, rasanya nilai-nilaiku mungkin akan lebih mudah dihargai jika pasangan hidupku berasal dari latar keilmuan yang sama denganku. Terlebih jika mengingat pertanyaan-pertanyaan yang diulang oleh keluarga besar setiap lebaran mengenai apa yang ku lakukan dalam hidupku hehe. Mungkin karena keluarga besarku, mulai dari budhe, pakdhe, oom, tante, hingga sepupu-sepupuku berasal dari keilmuan SAINTEK… Literally everyone in my family LOL. Tapi kemudian aku sadar, mereka bertanya karena mereka mungkin ingin memahami. Mereka peduli denganku. Dan yang ku lakukan pun sebenarnya hanya perlu menjelaskan saja. Aku sadar bahkan orang tuaku yang selalu mendukungku pun berasal dari latar belakang yang sepenuhnya berbeda denganku. Both of my parents are engineer. Meski sampai saat ini mereka selalu iya-iya aja setiap aku berkeluh kesah (gak ngerti deh iya-iya aja maksudnya ngerti atau gimana wkwk) tetapi mereka selalu mendukungku. Pelan-pelan mereka belajar memahami. Tidak sepenuhnya memang. Tetapi aku bersyukur bahwa mereka melihatku sebagai individu yang utuh. Bukan sebagai penerus ambisi mereka. 

Hingga akhirnya aku berpasrah siapapun yang menjadi pasangan hidupku kelak... dengan embel-embel apapun ia bawa... Semoga aku dapat mengerti dirinya sebagai seorang individu yang utuh. Menghargai semua perjalanan, impian dan nilai-nilainya... Dan mencintainya sebagai dirinya. 
.
Semoga pun dengan setiap individu di dunia ini.

"Kelak kita akan dicintai sebagai kita."