Pertanyaan itulah yang menjadi bahasan utama dalam pembacaan puisi dan diskusi puisi Hermann Hesse di Goethe Institut, Sabtu kemarin.
Semenjak les Bahasa Jerman di Goethe Institut, saya jadi iseng mulai melirik karya-karya sastra Jerman. Sebelumnya, saya tidak pernah tahu kalau Jerman punya karya sastra se-menarik itu. Saya kira Jerman adalah sebuah negara yang hanya mengedepankan sisi teknologinya saja. Saya pun baru tahu kalau Goethe, nama institut tempat saya belajar Bahasa Jerman, diambil dari seorang penyair masyhur dari negara tersebut. Goethe yang se-terkenal itu saja belum pernah ku baca karyanya. Apalagi Hermann Hesse. Siapa pula dia.
Lalu dimulailah keisengan tersebut. Setelah cabut dari tempat les dengan alasan bohong (huhu maaf banget), aku pergi menemui teman-temanku di ITB Insight Festival. Saking keponya sama acara ini, aku jadi tega-teganya membohongi meine lehrerin yang super baik. Tetapi sayangnya, acara tersebut tidak sesuai sama ekspektasi saya. Saya dan teman-teman saya baru mulai bergabung jam 4an. Tetapi wahananya sudah banyak yang tutup. Tempatnya pun sudah keburu banyak sampah dan lautan manusia yang membuat saya jadi pusing wkwk lemah. Jadi akhirnya saya dan teman-teman saya hanya bertahan di sana sampai magrib. Selesai magrib, Novri dan Audi memilih untuk lanjut ke PVJ tetapi aku dan Ineza masih mikir-mikir gak mau buang-buang duit wkwk. Tiba-tiba aku ingat kalau di Goethe ada pembacaan puisi dan diskusi puisi Hermann Hesse. APALAGI disuguhi makanan gratis Eropa, langsung dari kedutaan!! Setelah mendengar iming-iming makanan Eropa gratis langsung dari kedutaan, akhirnya Inez pun bersedia menemaniku ke Goethe. Hihi.
Sesampainya di sana, kami duduk di antara kepulan asap rokok. Huh. Bete juga sih. Tetapi setelah mendengar puisi Herman Hesse dibacakan, all the worriness, grumpiness, has just... vanished! Gilak! Merinding bahkan dari larik pertama. Entah karena terjemahannya yang begitu indah, pembacaannya yang memukau, atau karena puisi Hermann Hesse memang seindah itu walau baru pertama kali didengar.
![]() |
| Diskusi dan Pembacaan Puisi Herman Hesse |
Berbeda dengan penyair-penyair Jerman lainnya yang justru liriknya menyiratkan kesedihan, duka mendalam atau kebencian, Hermann Hesse ini justru menyuarakan optimisme dan keindahan alam. Mungkin ia satu suara dengan Goethe. Dan ada satu pembahasan yang menarik ketika membahas aliran Hesse ini; Ia seorang sufi.
Sufi. Sufisme, I don't know much about that thing yang saya tahu itu biasanya penyair-penyair beraliran tersebut adalah seseorang yang suka menyendiri merenungkan kehidupan. Sunyi. Benar-benar kedamaian yang ia inginkan. Mereka adalah orang yang selalu merindukan dan memuja tentang ke-Esa-an. Dan biasanya membaca karya-karya sastra beraliran tersebut pasti bikin saya pusing wkwk.
Perdebatan dan perbincangan tentang sufisme Hesse berlangsung seru. Dari sekian pertanyaan, empat pertanyaan di antaranya menanyakan sufisme Hesse tersebut. Pembicaranya adalah Herr Damshausser yang sudah menetap di Indonesia lebih dari 40 tahun dan ia juga menjadi penerjemah puisi-puisi Hesse ke dalam Bahasa Indonesia, serta Kang Agus seorang pakar sastra Jerman. Di sana mereka menjelaskan bahwa banyak filsuf dan penyair Jerman yang terkenal beraliran sufisme. Contohnya adalah Nietzche dan Hesse ini. Hanya bedanya Nietzche pada akhirnya mengikuti aliran Kahlil Gibran dan Hesse mengikuti aliran Jalaludin Rumi.
Lalu Kang Agus menjelaskan lagi. Bedanya, Gibran dan Nietzche itu seorang sufi atheis. Sebuah paradoks memang. Seorang sufi kok atheis? Jadi, Kang Agus menjelaskan bahwa sufi tersebut mencintai keagungan sang Esa tetapi tidak mengakuinya. Hmm. Kang Agus mengibaratkannya sebagai seorang laki-laki yang sangat mencintai seorang perempuan tetapi ketika perempuan itu datang dan mengetuk pintu rumahnya, ia tidak mau membukakannya. Laki-laki itu tidak mau menemuinya.
Hmm.. Ya sudahlah saya juga pusing haha. Ilmu sastra saya masih secetek kobokan Talijiwo wkwk. Baru belajar sampai Survey of Contemporary Literature wkwk. Tapi yang jelas, setelah mengikuti diskusi tersebut pemikiran saya terbuka lagi. Saya belajar hal baru dan saya selalu menikmatinya setiap mengetahui hal-hal baru. Wow, ternyata sedalam itu pemikiran sufisme. Ya ampun. Saya yang mikirin skripsi aja udah pusing HAHAHA.
Bagaimanapun, saya kecewa juga kemarin. Salah satu alasan saya datang ke sana kan karena hidangan santapan Eropa gratis haha. Tapi sudah jam 10 makanan belum boleh dinikmati juga. Lalu karena saya takut kehabisan travel ke Jatinangor makanya saya langsung pulang di tengah diskusi sebelum mencicipi kue-kue lucu Jerman, the tempted drinks, macaroni schotel, dan... risotto!!! Oh my.... My favorite.....
![]() |
| Risotto yang tidak kesampaian (cry) |
![]() |
| Trees - now is my favorite of Hesse |








