Sunday, 29 November 2015

Risotto dan Kehidupan

Apa arti kehidupan yang sebenarnya?

Pertanyaan itulah yang menjadi bahasan utama dalam pembacaan puisi dan diskusi puisi Hermann Hesse di Goethe Institut, Sabtu kemarin.

Semenjak les Bahasa Jerman di Goethe Institut, saya jadi iseng mulai melirik karya-karya sastra Jerman. Sebelumnya, saya tidak pernah tahu kalau Jerman punya karya sastra se-menarik itu. Saya kira Jerman adalah sebuah negara yang hanya mengedepankan sisi teknologinya saja. Saya pun baru tahu kalau Goethe, nama institut tempat saya belajar Bahasa Jerman, diambil dari seorang penyair masyhur dari negara tersebut. Goethe yang se-terkenal itu saja belum pernah ku baca karyanya. Apalagi Hermann Hesse. Siapa pula dia.

Lalu dimulailah keisengan tersebut. Setelah cabut dari tempat les dengan alasan bohong (huhu maaf banget), aku pergi menemui teman-temanku di ITB Insight Festival. Saking keponya sama acara ini, aku jadi tega-teganya membohongi meine lehrerin yang super baik. Tetapi sayangnya, acara tersebut tidak sesuai sama ekspektasi saya. Saya dan teman-teman saya baru mulai bergabung jam 4an. Tetapi wahananya sudah banyak yang tutup. Tempatnya pun sudah keburu banyak sampah dan lautan manusia yang membuat saya jadi pusing wkwk lemah. Jadi akhirnya saya dan teman-teman saya hanya bertahan di sana sampai magrib. Selesai magrib, Novri dan Audi memilih untuk lanjut ke PVJ tetapi aku dan Ineza masih mikir-mikir gak mau buang-buang duit wkwk. Tiba-tiba aku ingat kalau di Goethe ada pembacaan puisi dan diskusi puisi Hermann Hesse. APALAGI disuguhi makanan gratis Eropa, langsung dari kedutaan!! Setelah mendengar iming-iming makanan Eropa gratis langsung dari kedutaan, akhirnya Inez pun bersedia menemaniku ke Goethe. Hihi.

Sesampainya di sana, kami duduk di antara kepulan asap rokok. Huh. Bete juga sih. Tetapi setelah mendengar puisi Herman Hesse dibacakan, all the worriness, grumpiness, has just... vanished! Gilak! Merinding bahkan dari larik pertama. Entah karena terjemahannya yang begitu indah, pembacaannya yang memukau, atau karena puisi Hermann Hesse memang seindah itu walau baru pertama kali didengar.

Diskusi dan Pembacaan Puisi Herman Hesse

Berbeda dengan penyair-penyair Jerman lainnya yang justru liriknya menyiratkan kesedihan, duka mendalam atau kebencian, Hermann Hesse ini justru menyuarakan optimisme dan keindahan alam. Mungkin ia satu suara dengan Goethe. Dan ada satu pembahasan yang menarik ketika membahas aliran Hesse ini; Ia seorang sufi.

Sufi. Sufisme, I don't know much about that thing yang saya tahu itu biasanya penyair-penyair beraliran tersebut adalah seseorang yang suka menyendiri merenungkan kehidupan. Sunyi. Benar-benar kedamaian yang ia inginkan. Mereka adalah orang yang selalu merindukan dan memuja tentang ke-Esa-an. Dan biasanya membaca karya-karya sastra beraliran tersebut pasti bikin saya pusing wkwk. 

Perdebatan dan perbincangan tentang sufisme Hesse berlangsung seru. Dari sekian pertanyaan, empat pertanyaan di antaranya menanyakan sufisme Hesse tersebut. Pembicaranya adalah Herr Damshausser yang sudah menetap di Indonesia lebih dari 40 tahun dan ia juga menjadi penerjemah puisi-puisi Hesse ke dalam Bahasa Indonesia, serta Kang Agus seorang pakar sastra Jerman. Di sana mereka menjelaskan bahwa banyak filsuf dan penyair Jerman yang terkenal beraliran sufisme. Contohnya adalah Nietzche dan Hesse ini. Hanya bedanya Nietzche pada akhirnya mengikuti aliran Kahlil Gibran dan Hesse mengikuti aliran Jalaludin Rumi.

Wha --- Saya baru tahu kalau Gibran itu sufi.

Lalu Kang Agus menjelaskan lagi. Bedanya, Gibran dan Nietzche itu seorang sufi atheis. Sebuah paradoks memang. Seorang sufi kok atheis? Jadi, Kang Agus menjelaskan bahwa sufi tersebut mencintai keagungan sang Esa tetapi tidak mengakuinya. Hmm. Kang Agus mengibaratkannya sebagai seorang laki-laki yang sangat mencintai seorang perempuan tetapi ketika perempuan itu datang dan mengetuk pintu rumahnya, ia tidak mau membukakannya. Laki-laki itu tidak mau menemuinya.  

Hmm.. Ya sudahlah saya juga pusing haha. Ilmu sastra saya masih secetek kobokan Talijiwo wkwk. Baru belajar sampai Survey of Contemporary Literature wkwk. Tapi yang jelas, setelah mengikuti diskusi tersebut pemikiran saya terbuka lagi. Saya belajar hal baru dan saya selalu menikmatinya setiap mengetahui hal-hal baru. Wow, ternyata sedalam itu pemikiran sufisme. Ya ampun. Saya yang mikirin skripsi aja udah pusing HAHAHA. 

Bagaimanapun, saya kecewa juga kemarin. Salah satu alasan saya datang ke sana kan karena hidangan santapan Eropa gratis haha. Tapi sudah jam 10 makanan belum boleh dinikmati juga. Lalu karena saya takut kehabisan travel ke Jatinangor makanya saya langsung pulang di tengah diskusi sebelum mencicipi kue-kue lucu Jerman, the tempted drinks, macaroni schotel, dan... risotto!!! Oh my.... My favorite.....

Risotto yang tidak kesampaian (cry)

Trees - now is my favorite of Hesse


Thursday, 12 November 2015

Things I Learned from PEF


Headnote:

PEF: Padjadjaran Education Festival. Sebuah acara yang diselenggarakan untuk murid SMA sederajat se-Indonesia dan bertujuan untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka tentang Unpad.

--

Minggu kemarin, tanggal 8 November 2015, acara PEF secara resmi selesai, acara yang sudah kami persiapkan bersama sejak tiga bahkan empat bulan yang lalu. Sedih, senang, haru, lelah, merasa kangen, dan sebagainya bercampur aduk jadi satu. Klise, perasaan umumnya yang dirasakan oleh panitia ketika acara bubar. Tapi kali ini, aku mau menceritakan perbedaannya.

Niat saya untuk menjadi panitia di acara ini adalah mengisi kekosongan semester 7. Mengisi kekosongan. Iseng banget. Ya, karena seharusnya saya sudah SUJS dari semester kemarin dan seharusnya sudah bisa lulus paling lambat, maksimal, bulan Desember ini (udah diceritain di post sebelumnya). Seharusnya. Tapi ya sudah. It is okay. Pasti selalu ada hikmahnya. J

Lalu akhirnya saya mendaftarkan diri jadi panitia. Karena pejabat-pejabat tinggi di PEF adalah lingkaran teman-teman saya semua; mulai dari PO, Kabid, Koor, maka dengan mudah saya masuk PEF. Wawancara hanya formalitas belaka. Bahkan tadinya saya ditawari jadi Koor dengan mudahnya oleh Kabid yang teman dekat saya sendiri. Tapi karena gak pernah punya pengalaman di PEF sebelumnya, akhirnya saya memutuskan untuk jadi staff saja. Dan dimulailah pengalaman saya menjadi staff divisi Dokumentasi, Bidang Kreatif di PEF ini.

Awalnya, divisi ini susah sekali kumpul. Wajar sih, karena orang-orang yang memilih dokumentasi pasti orang-orang yang ingin kerja gampang, cepat, tapi bisa masuk ke dalam acara besar seperti PEF ini. Itu stereotip saya aja sih karena ternyata mereka memang orang-orang yang sibuk namun jago sekali dalam bidang fotografi dan publikasi. Tugas divisi kami adalah membuat desain ID Card, Sertifikat, membuat video-video persuasif tentang PEF, dan mendokumentasikan setiap rangkaian acara mulai dari roadshow hingga hari H. Alhamdulillah semua sudah kami selesaikan.

Alhamdulillah, saya punya teman-teman divisi yang kompak dan menyenangkan. Kalau malas, malas bersama. Kalau gak mau ikut rapat, gak ikut bersama. Bekerja dengan mereka pun jadi menyenangkan dan tidak dibawa beban. Kami sering kena eval karena “keliatan” gabut sih. Tapi gabut karena memang acaranya telat parah sampai 2 jam belum dimulai. Terus apa yang harus didokumentasikan coba? Sialnya, saya dan koor sebagai “tetua” lagi gak ada di sana waktu evaluasi sehingga tidak ada yang bisa membela divisi kami. Kasian adik-adikku tersayang kena eval sama PO, huhu.

Dan, sebagai bagian dari yang turut menyelenggarakan acara sebesar ini, tentu banyak pelajaran yang dapat saya ambil.

Pertama, ternyata memang susah bekerja dalam lingkaran teman sendiri. Bawaannya menjadi lebih under-pressure loh malahan. Gimana ya, justru karena dekat jadi segala sesuatu malah dilakukan berdasarkan ego pribadi, bukan profesionalisme. Sebagai contoh, Kabid saya lebih sering mengamanahkan saya untuk suatu hal, padahal ada yang lebih bisa bekerja dalam bidang tersebut daripada saya. Atau seperti dengan mudahnya menunjuk teman saya yang lain karena mereka dekat untuk menjadi LO si artis besar sehingga menuai beberapa ‘keirian’ dari stafnya yang lain. Atau dari saya sendiri jadi lebih ‘gak enak’ untuk protes karena gimana ya… Kan itu teman saya sendiri. Mulai dari hal sepele kayak tata bahasa yang kacau parah, Inggris-Indonesia yang campur sari sok asik, untuk publikasi. Atau dari telatnya acara waktu H-1, sampai 2 jam, apalagi saat itu banyak anak-anak SMA yang mulai gak betah menunggu dan minta izin sama staff kayak saya yang gak ngerti apa-apa untuk keluar ruangan. Tapi saya gak tega buat protes karena muka teman saya itu capek banget. Saya jadi kasian…

Tapi ya namanya kepercayaan mungkin memang tidak bisa dengan mudahnya dibangun buat orang baru. Mungkin niat teman-teman saya dalam lingkaran pejabat tinggi PEF itu ya karena kepercayaan dan ikatan yang tidak perlu dibangun lagi.

Kedua, nah ini penting sih menurut gue. JADI ORANG JANGAN BAPER-BAPER AMAT. Waktu saya kerja di lingkup yang lebih kecil, hal itu jarang terjadi karena kompleksitas dan kecapekannya yang masih biasa aja. Tapi giliran kerja di acara yang besar kayak gini… Itu jadi penting banget pemirsah! Jujur, kerja dibawa beban itu capeknya malah jadi berkali-kali lipat. Makanya saya menghindari banget buat kumpul sama orang yang ngeluh dan nangis terus, pas acara kayak gini. Memang pernah terjadi beberapa urgent di bidang saya, dan kabid saya malah baper-in semua hal itu… Maksudnya, come on, semua pasti akan selesai dan indah pada waktunya. Slow. Kalem. Karena kalo lo malah panik, nangis, dan marah-marah, itu gak akan buat masalah itu selesai dan malah nular ke staff-staff lo. Jujur, saya sedih pisan pas beliau nangis karena doi teman dekat saya banget. Tapi, saya gak suka ketika staff-staff yang lain jadi pada ikutan bingung dan resah karena kelakuan beliau yang baperin hal tersebut yang seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan kalau gak baper.

Tetapi ya di luar semua itu, acara ini sudah oke banget! Hampir 8.000-an pengunjung yang datang merasa puas dengan kerja keras kami semua. Alhamdulillaaaaah.

Semua kendala-kendala yang saya sebutkan tadi menjadi sangat kecil dan tidak sebanding dengan suksesnya acara ini diselenggarakan.
P.S. Lavvvvv you divisi ghibah hahaha. Inez dan Lidya teman kreatif bareng dan teman ghibah bareng juga (only us who can understand our kabid that much). Tisuy yang rela kerja keras buat kreatif, it is okay tis. Lain kali dibawa senang aja. We were always be there to help you kok. Mamat yang sabar banget wkwkwk. Suka kasian liat mukanya kayak sabar banget haha. Vera dan Bunga sebagai sandaran di ruang panitia ketika lelah mondar-mandir panas-panasan di lapangan. Elsa yang rela mau mayungin kamera gue saat hujan buat merekam para performers. Cowok-cowok Dekor, divisi tetangga, terutama Rula yang sangat menghibur hahaha. Bakal kangen sih pasti hiks hiks.


Roadshow to Ciamis.

With partner yang sabar dan baik hati, Agung tapi dipanggilnya Nia.



Nurin - Bunga - Lidya - Shifa - Hida

Yehet  Minus Vera nich.


Lidya - Vera - Nurin

Still happy dong.


Nurin - Inez - Lidya

Bhinneka Divisi, Bidang Kreatif Tunggal Ika.


My Lovely Divisi Ghibah xoxo


Cowok-cowok penghibur.

P.S. Rula gemayy! Hahaha.


#np NAIF - Di mana Aku Di sini