Saturday, 19 September 2015

Sastra dan Sejarah


             Dulu, sewaktu sekolah, saya paling sebel sama pelajaran Sejarah. Soalnya setiap waktu pelajaran tersebut saya harus membuat rangkuman yang ditulis tangan dan tentunya rangkuman tersebut gak sedikit. Sampai 4 lembar malah kadang saya merangkum. Sebel, kan pegel. Belum lagi ujiannya yang super sulit. Bayangin aja foto para pahlawan yang saya aja takut liatnya dan sudah buram juga harus dihapalkan. Lalu ketika ujian dimulai, saya harus menebak foto siapakah itu? Belum lagi memori saya yang gak bagus buat hafalan dipaksa harus mengingat tanggal-tanggal kejadian bersejarah beserta nama-nama orang yang gak mudah untuk diingat. 

             Tetapi semenjak saya masuk jurusan Sastra, justru sejarah menjadi dekat sekali dengan saya. Ibaratnya tubuh, nadi dari Sastra adalah peristiwa sejarah. Sastra itu dibentuk dari potongan-potongan narasi, dan narasi itu disusun oleh waktu, dan waktu adalah Sejarah. Saya memang anak Sastra Inggris sehingga karya yang saya baca malah berhubungan dengan sejarah-sejarah di negara-negara berbahasa Inggris, mulai dari Inggris, Amerika, hingga Afrika Selatan. Seperti peristiwa sejarah saat jaman kolonialisme Inggris ke negara-negara Asia dan Afrika dalam Shooting an Elephant yang mengungkapkan kejamnya penjajahan di Burma, atau Civil Peace yang menggambarkan sedihnya kehilangan keluarga karena perang di Nigeria. Ada juga peristiwa Civil War di Amerika yang melahirkan kesenjangan karya-karya sastra yang sangat berbeda di Amerika bagian utara yang modern dan Amerika bagian selatan yang ‘kumuh’ hingga akhirnya lahirlah pidato luar biasa yang dikenang sejarah dari Martin Luther King, Jr. Seperti itulah karya-karya sastra berkembang karena ditempa oleh pahitnya masa-masa kelam dari sejarah hingga akhirnya muncul karya Sastra kontemporer dan lahirnya kebebasan yang menciptakan berbagai jenis penulis mulai dari penulis berkulit hitam, feminis, hingga saat ini maraknya penulis Sci-fi, dan metropop.

            Di Indonesia, karya Sastra berkembang tidak kalah hebatnya. Walau memang tampak tenggelam dan tidak terderngar karena masih banyak orang Indonesia yang malas baca (bukan illiterate) namun ia terus lahir. Belakangan ini, saya mulai membaca karya-karya Sastra Indonesia lama mulai dari angkatan Balai Pustaka sampai angkatan 70. Awalnya saya membaca karena tuntutan yaitu kajian Comparative Literature (Sastra Bandingan) pada suatu mata kuliah. Lalu saya akhirnya mencoba membaca karya-karya lama itu untuk pertamakalinya karena guru Bahasa Indonesia saya sewaktu sekolah tidak pernah menyebutkan karya-karya tersebut sehingga saya buta akan kesusasteraan lama Indonesia. Ternyata saya benar-benar dapat dibuat merinding gara-gara baca karya-karya tersebut. Setiap karya Sastra tersebut mempunyai pesan sendiri, apalagi karya Sastra tahun 60-80 yang seperti menggebrak dan melakukan pertentangan dari karya Sastra sebelumnya, yang banyak dikontrol oleh kolonial, pemerintah, terutama (mungkin) gara-gara gerakan 30 September. Tetapi walaupun berlatar belakang sejarah, tetep aja saya suka novel-novel romansa, makanya saya suka Amba dari Laksmi Pamuntjak, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Umar Kayam, Leila S. Chudori dan banyak lagi. Dari membaca karya-karya kesusastraan lama tersebut, saya belajar banyak mengenai Indonesia. Indonesia dalam Sastra Indonesia ternyata tidak hanya menyangkut masalah geografi saja melainkan juga politik yang sangat kejam dan berlika-liku.

            Lalu setelah itu, saya menyadari bahwa sebenernya bukan hal yang sangat buruk kalau saya masuk jurusan Sastra. Saya gak akan pernah mau menyepelekan Sastra lagi. Sastra itu menyuarakan apa yang tidak bersuara. Buktinya, penulis-penulis angkatan 45 hingga tahun 80 banyak yang masuk penjara karena tulisannya. Sastra menyajikan apa yang orang tidak tahu dari permukaan. Ketika berita banyak dikontrol oleh politik dan kepentingan sana-sini, Sastra bersuara,  Seperti yang dikatakan oleh Mas Seno Gumira, “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.” Memang sih, sekarang kita hidup di jaman yang sudah serba enak, terus akhirnya jadi banyak yang mempertanyakan ngapain juga repot-repot mikirin masa lalu. Membaca karya sastra pun jadi kelihatan gak penting lagi karena mereka sudah bisa mendapatkan status sosial, cukup dengan buku pelajarannya. Tapi justru itu yang serem... Menciptakan orang pintar jaman sekarang menurut saya mudah. Mungkin sama mudahnya dengan memproduksi Indomie di pabrik. Saat ini juga sudah banyak tempat les bertebaran di mana-mana, belum lagi dukungan internet dan teknologi yang memadai. Tetapi ya itu mereka akhirnya (mungkin) cuma jadi kayak robot. Hidup untuk bekerja, bekerja untuk punya gadget paling baru, punya mobil minimal dua, sudah deh selesai. Akhirnya saking ketatnya persaingan orang-orang pintar tersebut, mereka jadi menghalalkan segala cara untuk memuaskan dirinya dan keluarganya sendiri. Lama-lama mungkin Jakarta udah jadi kayak New York; senjata dilegalkan, kriminalitas di mana-mana. Gak tau ding, saya gak mau negative thinking, ah. 

Makanya itu menurut saya untuk menyeimbangkan, orang-orang pintar tersebut harus mau membaca (bukan cuma buku pelajaran) karena Sastra dapat membuat mereka kembali membumi. Sastra dapat membuat mereka melihat dari banyak sudut pandang. Sastra juga terkadang mempunyai ideologi implisit yang ingin disampaikan penulis yang membuat pembacanya menjadi "peka". Orang yang suka membaca jadi punya pikiran yang lebih terbuka untuk menerima suatu hal yang baru tapi tentu tidak langsung ditelan mentah-mentah. Orang yang suka membaca juga tentu akhirnya menjadi kritis karena pikiran yang terbuka tersebut. Semoga pada akhirnya Sejarah tersebut tidak akan terulang kembali, atau lebih seramnya malah terciptanya Sejarah baru tentang degradasi ‘nilai’ manusia.



:(