Monday, 14 July 2014

When Writers Make Love

Dosen saya, Pak Ari, pernah bilang kalau setiap penulis akan melahirkan karya-karya yang ia anggap sebagai anak-anaknya. Proses percintaan dengan berbagai sumber dan intertextuality akan melahirkan anak-anak itu. Setiap penulis pasti akan mencintai karya-karyanya, sejelek apapun itu. Ia akan membiarkan karya-karyanya berkembang, tanpa dibatasi dan dikekang. Begitulah seharusnya karya-karya besar itu lahir.

Dan proses percintaan itu tentunya tidak hanya melibatkan satu orang saja, yakni si penulis itu sendiri. Tulisan yang cerdas dan indah, menurut beliau, adalah hasil pemikiran dari berbagai macam sumber, baik text maupun discourse. Karena perpaduan-perpaduan itulah tulisan dapat dinilai cerdas dan indah. Saya pernah membaca bagaimana kerennya sebuah artikel politik yang cerdas dipadukan dengan tokoh dan cerita pewayangan Indonesia. Saya juga pernah membaca bagaimana esai keren tentang pembelajaran ilmu melalui rekam jejak Wali Songo. Tulisan-tulisan keren itu sebenarnya sederhana. Pendapat mereka tentang politik maupun pembelajaran ilmu menurutku sederhana. Begitupun dengan cerita pewayangan dan Wali Songo menurutku juga sederhana. Namun perpaduannya itulah yang membuat tulisan-tulisan itu cerdas.
Ah, jadi inget kata Ayah Pidi Baiq sewaktu di kelas seni rupa,
"Keindahan itu sederhana saja. Keinginanmu untuk menjadikannya keren yang membuatmu menjadi ribet."

Daaaan, aku juga mau berbagi tulisan hehe. Bukan, bukan maksudku mengakui bahwa tulisan-tulisanku keren. Oh God, if only you know how it is so hard for me to produce such a qualified writing.... Sampai dosen-dosen saya (kecuali Pak Ari. Takut! Haha) pun mungkin kesel kalau saya sudah nanya-nanya dan ngomong gak jelas hahah. Makanya, biarin aku seneng aja ya hehe :)

So, check it out, my first "published" paper:

MAKNA KEBEBASAN PADA KATA "BIRD" DALAM PUISI JACK SPICER DAN MAYA ANGELOU


The picture should be a perfect moment. Reading while breathing the fresh air of nature. Waaa!

No comments:

Post a Comment