Thursday, 2 May 2019
Tanpa Prasangka
Untuk mempelajari suatu ilmu, seseorang lebih baik tidak dianjurkan untuk telah menjadi ahli dalam bidang tersebut. LOL, obviously. Malah, alangkah lebih baiknya jika ia datang tanpa prasangka. Itu akan jadi sangat berguna untuk menghindari bias dan prejudice dalam menuntut ilmu. Jika seseorang datang untuk belajar dengan membawa prasangka-prasangkanya sendiri, justru akan menjadi penghalang dalam memahami ilmu.
Hal tersebut mengingatkanku pada unggahan seorang teman yang berkeluh kesah di media sosial perihal studi lanjut. Ia mengeluhkan orangtuanya yang menyarankannya untuk mengambil studi lanjut dalam bidang Islamic Studies sementara ia tidak menaruh simpati sama sekali pada agama. Menurutnya, hal yang paling buruk yang ada dalam dunia ini adalah agama. Kemudian aku membalasnya dengan saran persis seperti yang ku tulis itu. Hanya saran, karena keputusan sepenuhnya adalah milik yang akan menuntut ilmu hehe. Itu pula yang mengingatkanku dengan teman-temanku yang ku kenal sekarang dalam studi pascasarjana ini. Diawali dengan insiden yang membuatku mengenal teman-teman BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), aku mengenal seseorang dari Meksiko yang jauh-jauh datang ke Indonesia untuk mempelajari Islamic History (Sejarah Islam). Ia bukan seorang Muslim. Ia bukan juga seorang religius. Ia cuma penasaran dengan suatu agama yang memiliki penganut terbesar di dunia ini dan "terlihat" menjadi suatu alasan atas banyak hal-hal yang terjadi di dunia ini. Begitu pula dengan temanku yang lain, seorang Ph.D dari Amerika yang sedang meneliti bahasa Sunda. Bahasa Sunda tentu adalah konsep yang asing sama sekali baginya. Namun, ia mempelajarinya tanpa prasangka dan siapa sangka ia justru dapat menemukan hal-hal yang selama ini luput dari peneliti bahasa Sunda lainnya yang memang sudah jago bahasa Sunda sebagai bahasa kesehariannya.
Wah, ilmu itu memang sesuatu yang tanpa batas sama sekali. Itu pun yang ku alami setelah tanpa sengaja tercebur di dalam dunia academia. Aku selalu diwanti-wanti oleh dosenku jika ingin melakukan penelitian lapangan, "Datanglah tanpa prasangka sama sekali. Meleburlah tapi tetap membatasi diri bahwa kamu sedang melakukan suatu penelitian." Hal tersebut juga yang mengingatkanku pada academia yang terlalu angkuh melabeli dirinya sebagai "ahli ini", "ahli itu", dan sebagainya. Makanya di dunia academia ada istilah "doktor baru" layaknya orang kaya baru hehe. Itu juga yang mengingatkanku pada banyak tulisan-tulisan di media sosial yang seringkali membuatku jemu. Mengapa harus menyampaikan pendapat seolah ia yang paling benar dan kesalahan adalah milik yang lainnya? Baik kubu X, kubu Y, kubu 1, kubu 2, dan semuanya seringkali terlihat sama saja....
Kenapa tidak menyampaikan pendapat dengan mengakui pendapat lainnya dan menambahkan pendapatnya dalam bagian yang kosong yang dapat dilengkapinya. Atau mungkin memahami mengapa seseorang tersebut dapat mengeluarkan pendapat seperti itu? Alih-alih sepenuhnya menyalahkan. Aku pun belajar hal tersebut melalui academia hehe. Di dunia akademis, ada yang namanya celah penelitian yang rumpangnya dapat diisi oleh penelitian kita. Alih-alih mengatakan penelitian tersebut sepenuhnya salah dan bodoh. Dengan itulah, dunia keilmuan menjadi berkembang. Bukankah begitu juga dengan perspektif kita sebagai manusia tempatnya salah?
Subscribe to:
Comments (Atom)
