Monday, 20 November 2017

Curcol

Postgraduate life has never been an easy one. Malam yang panjang dengan jurnal, review, tugas, penelitian, dan segala isinya. Despite the difficulties and tears that I have been through, there are people out there who still mock my decision, being nosy. Mempertanyakan kegunaan, kepentingan, dan kesia-siaan yang aku dapatkan karena tidak bisa membahagiakan orang tua secepatnya. Mereka berpikir orang tuaku akan bahagia jika aku langsung bekerja dan memberi mereka upah. Lantas mereka mempertanyakan apakah aku melanjutkan studi sebagai pelampiasan karena tidak dapat kerja.

Mereka salah. Mereka tidak tahu apa yang telah ku lalui untuk mencapai tahap ini.

Aku selalu bersyukur dilahirkan dari kedua orangtua yang selalu mendukung apapun keputusanku. Mereka tempat berdiskusi yang sangat baik. Aku bersyukur karenanya.

Mereka tidak tahu kalau setelah lulus kuliah, aku sudah mempersiapkan kehidupan pascaku ini. Aku jatuh cinta dengan ilmu ini dan ingin menjadi seorang peneliti bidang tersebut. Dan siapa yang dapat melarang orang yang sedang jatuh cinta?

Aku sudah mempersiapkan fokus penelitian ini sejak semester terakhirku di studi sarjana. Selama hampir setahun aku tidak pernah sekali pun mencoba untuk melamar kerja. Aku bekerja keras untuk mempersiapkan diri untuk studi pasca ini, mulai dari IELTS, LoA, berkas beasiswa, dan sebagainya. Mereka tidak tahu bahwa mempelajari sesuatu yang baru, yang tidak pernah dipelajari sebelumnya tidaklah mudah. Aku tidak mempunyai mutual knowledge dalam penyimpanan memori yang dapat menghubungkan pengetahuan baru tersebut. Terminologi yang asing. Metodologi yang baru. Ahli-ahli teoretis yang baru ku dengar namanya. Aku mencoba mempelajari semua yang baru dan asing tersebut.

Hingga saat eksekusi, aku mendapat kesempatan diwawancara oleh profesor terkemuka dari Inggris yang sering ku baca namanya di jurnal-jurnal baru tersebut, aku merasa bahagia sekali bahwa ternyata kerja kerasku berhasil. Aku dapat mengerti apa yang profesor tersebut diskusikan dan ternyata penelitian beliau mempunyai satu goal yang sama dengan penelitianku. Aku semakin percaya diri untuk melamar beasiswa terkemuka dari pemerintah negaraku. Aku mengantongi rekomendasi dari profesor terkemuka di bidangku yang berasal dari negara di mana pengetahuan tersebut pertama kali diinisiasi. Aku melewatinya; lolos mulai dari tahap satu, tahap dua, hingga tahap terakhir.

Mereka salah. Apa yang telah aku perjuangkan tidak berjalan semudah itu.

Dalam wawancara sebagai tahap terakhir, sepanjang waktu tersebut hanya dihabiskan dengan perdebatanku dengan seorang interviewer, seorang akademisi yang pernah ku jumpai sekali waktu konferensi. Perdebatan itu berujung pada satu hal bahwa hal fokus penelitian yang ingin aku tekuni tersebut bukan pekerjaan seorang linguist, melainkan seorang lawyer. Aku masih bingung sekali hingga saat ini dengan pernyataan beliau. Lantas untuk apa ada seorang profesor linguistik yang sudah mempublikasikan berbagai penelitian bermanfaat, yang aplikasinya sudah digunakan di Inggris, mempunyai fokus penelitian tentang hal tersebut? Aku keluar dengan pasrah sekali pada hasilnya karena pada saat itu aku tahu bahwa anggapanku terhadap ilmu baru itu berbeda dengan anggapan bapak interviewer itu. Pada saat itu, aku tidak tahu mengapa seorang akademisi bisa berpendapat sebeda itu terhadap suatu bidang ilmu walau sama-sama pakar linguistik. Aku baru mengetahui setelahnya di masa pasca ku ini bahwa mulai tahapan S2, ilmu dinilai secara evaluatif. Tidak seperti S1 yang hanya mendeskripsikan saja. Aku juga baru membaca suatu artikel yang isinya hanya argumen seorang profesor yang memperdebatkan anggapan profesor lainnya walau mereka berada dalam institusi yang sama. Hingga akhirnya aku baru merelakan hasil seleksi beasiswa tersebut bahwa memang bukan kesempatanku untuk melanjutkan studi dalam fokus itu.

Itu tidak mudah. Tentu.

Saat keluar dari ruang wawancara itu, aku bingung sebingung-bingungnya apa yang harus ku lakukan jika aku tidak diterima beasiswa ini. Aku yakin 80% bahwa hasilnya memang tidak. Aku merasa sangat hancur saat itu. Usahaku sia-sia. Proposal tesisku yang sudah ku konsultasikan ke sana kemari menjadi tidak berguna. I was lost and didn't know what to do. Saya bingung sekali harus ke manakah saya melanjutkan studi karena jurusan tersebut hanya dikembangkan oleh empat universitas di dunia dan tidak ada di Indonesia. Saya lihat suatu universitas mengembangkannya tetapi hanya untuk studi doktoral.... Setelah mencoba berdiskusi dengan dosen-dosen di S1 dulu, akhirnya saya memutuskan suatu universitas.

Dan masih tidak mudah. Tentu.

Saya terus belajar yang untungnya masih dalam bidang yang saya suka walau fokusnya berbeda sehingga saya dengan senang hati melakukannya. Anyway, saya sudah melupakan fokus tersebut selama studi pasca ini walau masih berharap jika suatu saat diberi kesempatan untuk mempelajari fokus tersebut. Ironinya, dalam studi ini saya menemui penerima beasiswa tersebut yang ironinya tidak menggunakan kesempatan studi ini sebaik-baiknya... Sedih sekali... Padahal dulu saya pernah dengan susah payah memperjuangkannya, eh yang diterima malah 'take it for granted'....

Sudahlah... You can never predict life. Truly. Dengan begitu, jangan juga ikut-ikutan menilai keputusan orang dengan mudahnya yaa. Saya bahagia kok dengan pilihan ini, orangtua saya pun begitu. Memang tidak pasti sih soal pekerjaan tetapi saya sudah jatuh cinta sekali dengan ilmu ini dan ingin menekuninya. Semoga semua berbahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing yaa.

---

This post will be deleted soon. Cuma curcol sembari pusing mikirin paper ditambah dinyinyirin orang padahal lagi pusing :"""))

Saturday, 9 September 2017

Eilis, Rumah dan Brooklyn

"You'll feel homesick that you'll want to die, and there's nothing you can do about it apart from endure it. But you will, and it won't kill you... and one day the sun will come out and you'll realize that this is where your life is. (Brooklyn, 2015)"


Eilis Lacey, tokoh utama dalam film ini sebenarnya bukan seorang tokoh yang patut dikagumi karakternya. She played safe, preferred to hide her feeling than hurt other's feelings, went along the flow, defenseless. Eilis berpikir bahwa hidupnya di Enniscorthy, sebuah kota pinggiran di Irlandia, adalah hal terbaik yang ia miliki; bekerja, menikah, kemudian mempunyai anak dan akan meninggalkan pekerjaannya dengan menjadi ibu rumah tangga dan mengurus rumah. Standar. Seperti umumnya perempuan pada awal tahun 1950-an yang digambarkan dalam karya sastra Irlandia. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat ia harus pergi meninggalkan kota kecil tersebut dan memulai sebuah hidup baru di tempat yang asing tanpa keluarga dan teman; Brooklyn. Penggambaran karakter yang 'biasa' tersebut dibangun dengan apik sehingga membuat saya justru menjadi bersimpati dengan Eilis.

Eilis adalah simbol dari imigran atau seseorang yang pergi meninggalkan tempat nyamannya dan kemudian berada di titik kebingungan mengenal identitasnya. Di Irlandia, ia adalah seorang putri yang hidupnya lengkap dengan orang-orang yang mencintai dan dicintainya; keluarga dan sahabat. Di Amerika, ia menemukan dirinya berada dalam tempat yang asing, teman-teman asrama yang belum terlalu dekat dengannya dan pekerjaan yang mengharuskannya untuk berbasa-basi, sangat tidak seperti orang Irlandia yang kaku dan berterus-terang.  Film ini terus bergulir ke masa terberat Eilis ketika ia merindukan keluarga dan kampung halamannya. Penderitaan Eilis tersebut ditampilkan sekitar dua puluh menit di film ini. Hingga akhirnya tiba pada suatu titik, ketika ia mengenal Tony, seorang imigran dari Italia yang ia temui di acara dansa.


Klasik, Eilis jatuh cinta dan hari-harinya bersama Tony mengenalkannya pada Amerika yang baru. Bukan lagi Amerika yang dahulu ia yakini sebagai tempat untuk mencari uang saja. Ia mulai menganggapnya sebagai rumah. Terlebih, hubungan Eilis dan Tony mulai memasuki tahap serius. Mereka akan menikah dan membangun keluarga di Amerika. Di sini, konsep 'rumah' bagi Eilis mulai bergeser. Brooklyn is a new home for her.

Tetapi semua hal memang tidak berjalan dengan mudah. Eilis tiba-tiba mendapatkan berita duka dari keluarganya dan harus kembali ke Enniscorthy. Kembali, identitas Eilis di Brooklyn yang baru saja dibangunnya kembali goyah. Ia akan pulang. Dan pulang selalu berasosiasi dengan rumah, 'rumah' Eilis yang sebenarnya.

Kelanjutan cerita ini pun berakhir dengan penerimaan Eilis. Ketika ia kembali ke rumahnya dan segala memori yang menyenangkan di ingatannya muncul kembali, Titik kebingungan identitas yang menjadi inti dari film ini akhirnya terjadi. Namun pada akhirnya ia sadar bahwa hidup itu berjalan dan ia akan kalah jika ia terus berjalan di tempat. Ia mempunyai mimpi dan masa depan mengenai keluarga yang dirancangnya bersama Tony di Brooklyn. Enniscorthy memang rumah dan akan selalu menjadi rumah tapi bukan berarti Eilis tidak dapat membuat rumah kedua dengan kenyamanan yang sama. Dan Eilis menerimanya.

Menurut saya pengangkatan tema mengenai imigran dan kebingungan akan identitas dan rumahnya adalah hal yang tidak akan pernah bisa habis untuk dibahas. Banyak karya sastra Indonesia yang membahasnya seperti Keberangkatan oleh Nh Dini, Seribu Kunang-kunang di Manhattan oleh Umar Kayam dan masih banyak lagi. Jangankan secara global, meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja pun membuat identitas seseorang menjadi terdistorsi. Saya bersimpati kepada Eilis karena hal itu pun saya alami. Begitu pun dengan sekian banyak orang di luar sana yang meninggalkan rumahnya demi pengharapan akan masa depannya.

Teruntuk siapa pun yang sedang berjuang di luar sana dan menghabiskan malam-malamnya dengan kekhawatiran seperti Eilis yang hanya diizinkan untuk mengingat masa lalunya yang menyenangkan ketika ia beranjak tidur, hidup itu adalah menerima. Menerima kalau hidup memang akan selalu berjalan, tidak peduli kamu sedang bahagia dan berada di tempat ternyamanmu. Ketika kamu sedang belajar di bangku kuliah, hidup terus berjalan. Ia menuntut kamu akan nilai yang baik, memahami ilmu, mencari teman dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Ketika kamu bekerja, hidup pun masih terus berjalan, menuntut kamu akan pencapaian yang lebih; pernikahan, keluarga, rumah dan sebagainya. Mungkin memang pencapaian seseorang tidak selalu mutlak seperti itu; ada orang yang ingin membangun sekolah di sebuah daerah terpencil atau menjamahi pelosok Indonesia daripada membangun sebuah keluarga. Sure, there is. Namun memang hidup akan terus selalu berjalan, tidak peduli apakah pencapaianmu tersebut berhasil atau tidak.

Pada akhirnya, penerimaan itulah yang penting. Seperti Eilis yang pada akhirnya menerima bahwa Enniscorthy tidak bisa lagi ia sebut sebagai rumah walaupun keluarganya berada di sana. Ia harus menerima bahwa kehidupan terus berjalan dan ia tidak bisa diam dan mengeluhkannya begitu saja. Eilis akhirnya turut berjalan dan membangun 'rumah'-nya yang baru di Brooklyn dengan keluarganya yang baru. I know life isn't always about the sweet ones but you can always make it to be the sweet ones. It's in your hands.