Jatinangor, Oktober 2016
'Home feels like home because of the feeling, not a place.'
---
Saya ke sini lagi. Jatinangor lagi. Setelah dua bulan lamanya tidak berjumpa dengan kecamatan kecil yang penuh kenangan.
Saya ingat bagaimana tempat ini pada awalnya adalah tempat asing, hingga akhirnya tempat ini bisa menjadi rumah baru yang memperkenalkan saya dengan orang-orang yang dapat saya sebut keluarga baru. Tempat ini berhasil membuat saya rindu karena kenangan-kenangannya saat kebosanan karena liburan kuliah yang terlalu panjang datang menerpa. Tempat ini menjadi saksi perjuangan saya dan teman-teman, bahkan ribuan orang mahasiswa lainnya, untuk sebuah impiannya masing-masing. Rela tidak pulang-pulang ke rumah, dan menyandarkan keluh kesah juga bahagianya kepada satu sama lain.
Tidak hanya tentang perjuangan, tempat ini juga menjadi penuh cinta karena semua kesepian dan kerinduan kami akan rumah masing-masing dapat tergantikan sementara dengan candaan bodoh ketika makan bareng, nginep bareng sahabat-sahabat tercinta dan berujung jadi curhat sampai larut malam, pusing ngerjain tugas bareng yang pada akhirnya malah jadi gosip dan nobar di laptop, kejadian-kejadian unpredictable di kelas yang bikin ngakak serta kerjaan-kerjaan organisasi yang bikin capek tapi sayang :)
Namun kali ini lain, tempat yang membuat saya rindu ini ternyata kembali berubah menjadi tempat asing seperti saat saya pertama kali tinggal di sini.
Tempat ini menjadi kosong kembali. Bukan karena tidak ada orang di sini, melainkan karena saya tidak menemukan rumah di tempat ini. Semua sahabat-sahabat saya sudah lulus dan menjalani kehidupannya masing-masing. Kalaupun ada yang belum lulus, sahabat saya tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta untuk penelitiannya. Tidak ada lagi orang yang ku kenal di tempat ini.
To stress it again, bukan tentang tempat, Jatinangor masih sama persis seperti saat-saat bahagianya saya dan teman-teman saya dahulu, hanya perasaannya saja yang menjadi berbeda.
---
Menjadi dewasa itu amat menyulitkan ya. Kamu harus siap dengan datang dan pergi lainnya. Kamu harus siap dengan pilihan-pilihan yang tidak pasti tetapi tetap harus kamu pilih. Kamu harus siap dengan mencoba keluar dari zona nyaman kamu. Kamu harus siap dengan tanggung jawab berikutnya. To conclude, kamu harus siap dengan apapun.
Jatinangor tidak lagi menjadi tempat untuk menyandarkan keluh dan bahagia. Saat ini Jatinangor malah menjadi tempat yang menguatkanku dengan mengingatkan,
"Dear Nurina, life goes on. There is no pause nor stop."
---
Note: Baru-baru ini saya kembali ke Jatinangor karena ada urusan tertentu di kampus. Oh iya, alhamdulillah saya sudah lulus menjadi Sarjana Humaniora sejak Juli 2016 lalu. The ups and downs to get that title will be told later in another post :) Sebenarnya setelah lulus saya memang tidak langsung berniat untuk pulang ke rumah for good dan memutuskan untuk tinggal sementara di Jatinangor karena masih ada target yang harus dicapai hehe. Namun, tidak diduga abstrak iseng saya diterima di sebuah konferensi yang membuat saya harus melakukan penelitian lagi; mencari teori lagi, contoh data lagi, padahal dosen yang nyuruh saya ngirim abstrak itu menyarankan untuk mengirimkan saja abstrak skripsi. Idk but I find it super boring to talk about my thesis more than twice already. Dodol banget ya hahaha padahal iseng banget abstraknya jadi kena deh... Konferensi itu juga mau saya tulis di post lainnya ya hehe. Lalu, setelah konferensi itu saya jadi panitia pernikahan mbak sepupu saya tercinta. Ribet sih, tapi karena mbakku bahagia maka aku pun ikut bahagia :) Dan.... Setelah semua itu beres, saya langsung sakit tipes haha. Saya dirawat seminggu lebih. Ya ampun mungkin tubuh saya sudah minta istirahat kali ya, dari jaman skripsi yang gila sampai jadi panitia nikahan tersebut. But that is okay, sesungguhnya dosa-dosa kita kan juga ikut diluruhkan ketika kita sakit. Aamiin.. Makanya karena itulah saya jadi tidak ke Nangor selama itu. Dan voila, begitulah perasaan saya begitu sampai di Nangor kembali :(