Cahaya itu akan menjadi terang karena adanya gelap.
Semua orang juga tahu. Semua orang juga menyadarinya.
Aku rasa sejujurnya bumi menyukai matahari, bukan bulan.
Tapi bumi seringkali mengeluhkan keberadaannya.
Ia bilang, “Aduh panas, aduh jadi sakit kepala nih, aduh
pusing”
Matahari tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu ia terus saja
menyinari bumi.
“Aduh global warming nih, sinar matahari sudah menembus
lapisan ozon.”
Tapi matahari tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia tetap
saja menyinari bumi.
Matahari merasa dirinya tidak indah. Padahal ia bercahaya.
Sumber dari cahaya itu sendiri.
Matahari merasa ia dibenci oleh bumi, keberadaannya tidak
diharapkan.
Lalu, matahari merasa iri pada bulan.
Sang bumi terus membuat syair tentang bulan. Mengumpamakan
keindahan seperti bulan.
Katanya, “Oh aku ini bagai pungguk merindukan bulan.”
Katanya lagi, “Kamu itu cantik seperti cahaya bulan purnama.”
Matahari sedih karena sesungguhnya cahaya bulan yang indah
itu berasal dari dirinya.
Ah, andai saja bumi tahu, kataku.
Keindahan cahaya yang sesungguhnya ialah matahari, bukan
bulan.
Cahaya bulan memang indah, semua orang bisa menatapnya, bisa
menikmatinya.
Namun bukankah kecantikan yang bisa dinikmati oleh semua
orang justru tidak indah?
Menurutku, keindahan yang sesungguhnya tidaklah se-semu itu.
Cahaya matahari itu memancarkan energi yang sangat besar, radiant.
Cahayanya senantiasa memancarkan kehangatan,
namun cahayanya juga membuat orang-orang menunduk sebelum
bisa memandangnya.
Yang dengan cahayanya, bumi mendapatkan manfaat yang banyak.
Hanya saja bumi tidak menyadarinya. Eh, maksudku belum.
Aku mengakhiri pikiranku sendiri, mengarahkan pandanganku
pada foto yang terpampang dalam layarku.
Ah, mungkin kita sebenernya seperti itu.
Saling membutuhkan, hanya saja kamu belum menyadarinya.
Biarkan saja aku menjadi matahari yang keberadaannya tidak
bumi pedulikan.
Aku hanya ingin terus menyinarimu dengan kebahagiaanku,
berharap kamu juga tertular bahagia.
Walau kamu terus saja berpujangga akan bulan, yang sinarnya
semu, tidak istimewa, bisa dinikmati oleh semua orang.
Pada akhirnya waktu akan memihak kita…
Demi matahari yang selalu ikhlas menyinari bumi.